Di tengah upaya pemulihan pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, ada satu permintaan mendesak yang mengejutkan. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan, banyak warga yang kitab sucinya hanyut atau rusak parah diterjang banjir dan tanah longsor. Tak cuma Al-Qur'an, permintaan serupa juga datang dari umat beragama lain.
“Di luar dugaan kami, ternyata permintaan mereka ke Kementerian Agama itu Qur'an karena Qur'an mereka hancur,” kata Nasaruddin dalam rapat satgas di Kemendagri, Jakarta, Senin lalu.
Merespons hal itu, langkah cepat pun diambil. Kementerian Agama segera mencetak ulang puluhan ribu Al-Qur'an untuk segera didistribusikan. Menariknya, bantuan serupa tak hanya untuk umat Islam.
“Kemudian buku-buku agama, termasuk non-muslim, kita juga kerja sama dengan Dirjen Bimas Kristen, apa, Katolik, dan Hindu, Buddha untuk menyiapkan kitab-kitab suci mereka,” ucapnya.
Menurut Nasaruddin, situasi ini membuka mata semua pihak. Pasca bencana, kebutuhan korban ternyata sangat kompleks. Bukan cuma soal tempat tinggal atau makanan, tapi juga ketenangan batin.
“Bahwa ternyata masyarakat terdampak itu tidak hanya membutuhkan bangunan fisik,” tegasnya.
Karena itu, selain menyalurkan kitab suci, Kemenag juga mengerahkan jaringan para ustaz, pemuka agama, hingga penyuluh. Tujuannya satu: memulihkan kondisi spiritual mereka yang terdampak. Bahkan, ada permintaan khusus untuk menghadirkan penceramah ternama.
“Jadi kami gilir penceramah kondang ke lapangan itu karena mereka itu juga bagian dari permintaannya,” jelas Nasaruddin.
Upaya ini menunjukkan, di tengau reruntuhan, semangat untuk menjaga iman justru makin kuat. Bantuan fisik memang penting, tapi mengobati luka di hati membutuhkan pendekatan yang berbeda sama sekali.
Artikel Terkait
Jemaah Haji Indonesia Manfaatkan Fasilitas Air Zamzam Gratis di Area Masjid Nabawi
Menteri PPPA Disindir Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Pakar Psikologi Forensik Sebut Absurd
Warga Swedia Ditemukan Tewas Usai Jatuh ke Jurang Sedalam 30 Meter di Ubud
Menhub Sebut Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Jadi Pelajaran Penting untuk Evaluasi Total Keselamatan Perkeretaapian