Di Minneapolis, sebuah insiden penembakan oleh agen imigrasi federal menewaskan seorang warga negara AS. Korban itu adalah Alex Pretti, 37 tahun, seorang perawat ICU. Ia ditembak mati di jalanan kota itu.
Menurut orang tuanya, Pretti adalah sosok yang punya kepedulian besar. Tidak hanya pada keluarga dan teman, tapi juga pada para veteran yang dirawatnya di Rumah Sakit Veteran Affairs (VA) Minneapolis.
"Pretti adalah jiwa yang baik hati," ujar orang tuanya dalam sebuah pernyataan. "Alex ingin membuat perbedaan di dunia ini. Sayangnya, dia tidak akan bersama kita untuk melihat dampaknya."
Rasa duka yang sama datang dari rekan kerjanya. Dimitri Drekonja, Kepala Bagian Penyakit Menular di rumah sakit VA, mengenang Pretti sebagai orang baik dan ramah.
"Dia memiliki sikap yang sangat baik," tulis Drekonja di media sosial. "Kami sering mengobrol tentang rencana bersepeda gunung bersama. Sekarang tidak akan pernah terjadi."
Drekonja menegaskan, Pretti adalah perawat yang dedikasinya untuk mendukung veteran sakit kritis tak perlu diragukan. Latar belakangnya pun jelas: lulus SMA di Green Bay, Wisconsin tahun 2006, lalu melanjutkan ke sekolah keperawatan sebelum akhirnya mendedikasikan diri di VA.
Namun begitu, narasi dari pihak pemerintah justru berbeda. Para pejabat pemerintahan Trump berusaha menggambarkan Pretti sebagai agresor yang kejam. Klaim ini, sayangnya, langsung berbenturan dengan video yang beredar luas meski belum diverifikasi independen oleh AFP. Dalam rekaman itu, terlihat adegan yang bertolak belakang dengan pernyataan resmi.
Orang tua Pretti bersikeras bahwa putra mereka sedang berusaha melindungi seorang wanita demonstran yang didorong oleh agen federal. Saat itulah, kata mereka, penembakan terjadi.
"Alex jelas tidak memegang senjata ketika diserang," tegas pernyataan keluarga itu dengan nada keras. Mereka menyebut agen-agen itu sebagai "preman ICE yang pengecut dan pembunuh".
Lebih detail mereka menjelaskan, tangan kanan Pretti memegang telepon. Tangan kirinya kosong, terangkat di atas kepala, sementara ia berusaha melindungi wanita yang baru saja jatuh terdorong dan matanya tersiram semprotan merica.
Keluarga itu marah. Mereka mengecam keras apa yang disebut sebagai "kebohongan menjijikkan" dari pemerintah. Senjata yang ditemukan, yang katanya punya izin, tidak sedang dipegang saat kejadian. Sekarang, mereka hanya ingin publik tahu kebenaran tentang anak mereka yang baik itu.
"Kami sangat sedih tetapi juga sangat marah," kata mereka.
Insiden memilukan ini terjadi di jalanan licin kota Midwest, kurang dari tiga pekan setelah petugas ICE menembak mati Renee Good (37) di dalam mobilnya. Kematian Pretti memicu gelombang protes baru. Banyak pejabat lokal mengecam dan membantah klaim cepat pemerintah Trump yang menyatakan Pretti berniat melukai agen federal saat demonstrasi penolakan penindakan imigrasi berlangsung. Suasana kota itu kini kembali memanas.
Artikel Terkait
KAI Batalkan 8 Perjalanan Kereta Jarak Jauh dari Jakarta Hari Ini, Tiket Dikembalikan 100 Persen
Transit Kapal di Selat Hormuz Anjlok 95,3 Persen Usai Konflik AS-Israel vs Iran, Harga Minyak Eropa Melonjak 53 Persen
Bayi 18 Bulan Diduga Jadi Korban Penganiayaan di Daycare Tak Berizin di Banda Aceh, Polisi Amankan Pengasuh
Mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Jadi Tersangka Korupsi Dana Participating Interest Rp271 Miliar