Krisis air bersih itu soal nyawa dan harga diri, bukan cuma soal sumber daya yang menipis. Coba bayangkan, di berbagai daerah, susahnya dapat air bersih langsung bikin kesehatan terganggu. Beban sosial pun makin berat, dan risiko mengintai setiap hari.
Isu inilah yang mengemuka dalam sesi Water Sustainability di Beauty Science Tech (BST) 2026. Diskusi bertajuk 'Water for Life: From Global Agenda to Grounded Impact' itu dengan tegas menempatkan air sebagai isu kemanusiaan. Jadi, ini bukan lagi cuma urusan pipa atau pompa.
Retno Marsudi dari Board of Council Paragon Wardah bicara blak-blakan. Baginya, cara suatu bangsa memperlakukan air adalah cerminan bagaimana mereka menghargai hidup manusia.
Ucapnya di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Kamis lalu (22/1/2026). Forum itu sendiri memang sengaja menghadirkan beragam suara, dari pembuat kebijakan, pelaku industri, sampai organisasi sosial, untuk bahas solusi ketahanan air.
Nah, realitas di lapangan justru lebih keras. Shana Fatima, Founder & CEO Komodo Water, berbagi pengalamannya langsung dari pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil.
Katanya lagi, dampaknya itu luas dan sering tak terlihat. Waktu produktif hilang, kesehatan jadi taruhan, dan kerentanan terutama bagi perempuan makin menjadi-jadi.
Artikel Terkait
Pramugari Olen Kembali ke Manado untuk Peristirahatan Terakhir
Prabowo Tantang Pengusaha di Davos: Coba Beli Pejabat Saya!
Jakarta Siaga, Operasi Modifikasi Cuaca Digelar Dua Kali Sehari
Prabowo Tantang McDonalds di Davos: Dapur Gratis Indonesia Siap Lampaui 68 Juta Piring Sehari