Dari kacamata industri, dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO ParagonCorp, mengakui isu air sudah lama jadi perhatian serius perusahaannya. Ini bagian dari tanggung jawab kemanusiaan mereka.
Jelasnya. Upayanya kini fokus pada pengelolaan air yang lebih bertanggung jawab dan dukungan bagi inisiatif yang melindungi kelompok rentan.
Lalu, bagaimana dari sisi kebijakan? Rachmat Kaimuddin, Chair of the ISF Organizing Committee yang juga Deputy Coordinating Minister, punya pandangan jangka panjang. Menurutnya, mengatasi krisis air butuh investasi serius dan kolaborasi tanpa sekat.
tegasnya.
Pada akhirnya, diskusi ini menyimpulkan satu hal: krisis air tak bisa diatasi dengan cara-cara parsial. Butuh pendekatan komprehensif, dari hulu ke hilir. Infrastruktur penting, tapi perubahan perilaku, tata kelola berkelanjutan, dan keberpihakan pada kelompok terdampak jauh lebih krusial.
Intinya, ini lebih dari sekadar isu lingkungan. Ini soal kemanusiaan yang menyangkut hak hidup dan martabat. Dan itu menuntut komitmen bersama untuk solusi yang adil dan bisa dipertahankan di masa depan. Sesi Water Sustainability BST 2026 ini coba membuka ruang percakapan itu, mendorong kolaborasi nyata antara pemerintah, swasta, dan masyarakat agar dampaknya benar-benar terasa.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing