Di sisi lain, efektivitas penyaluran juga tak kalah penting. Yahya mengingatkan pengalaman kurang baik saat liburan sekolah. Waktu itu, orang tua harus mengambil ke sekolah. “Sehingga harus mengeluarkan biaya transportasi,” tuturnya. Itu dianggap tidak efektif.
Namun, mengantar langsung ke rumah siswa juga bukan solusi sempurna. “Biaya transportasinya sangat memberatkan bagi SPPG. Karena rumah siswa tersebar luas dan terpencar-pencar,” imbuh dia.
Intinya, fokus utama harus pada dua hal: keamanan pangan dan kandungan gizi. Keduanya, kata Yahya, wajib terjamin.
MBG Tetap Jalan Selama Ramadan
Sebelum pernyataan Yahya, BGN sebenarnya sudah memastikan program ini akan berlanjut. Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut skema khusus sudah disiapkan, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang berpuasa.
Pola ini bukan hal baru. “Ya, untuk Ramadan itu sama seperti tahun lalu,” beber Dadan usai rapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (20/1).
Jadi untuk daerah dengan mayoritas Muslim, makanan akan dibagikan pada jam sekolah. Hanya saja, makanannya dirancang untuk dibawa pulang. “Tahan lama, tahan 12 jam, dari mulai disiapkan sampai dia dikonsumsi pada saat buka,” jelas Dadan. Begitulah rencananya.
Artikel Terkait
Hujan dan Angin Gila Porak-Porandakan Rumah Warga di Bogor
Tim SAR Spesialis Tebing Turun Tangan di Medan Curam Pencarian Korban ATR 42-500
Tito Karnavian Serahkan Bantuan dan Angin Segar Rp1,6 Triliun untuk Aceh Pascabencana
Trump Rangkul 35 Negara untuk Dewan Perdamaian, Anggota Tetap Bayar Rp16 Triliun