Realitas pasar properti Jakarta tahun 2025 ternyata meninggalkan bekas yang dalam pada kas daerah. Lusiana Herawati, sang Kepala Bapenda DKI, mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan: penerimaan dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) anjlok jauh dari target. Dari yang ditetapkan sebesar Rp 10,37 triliun, nyatanya yang masuk cuma Rp 6,01 triliun. Angkanya cuma 57,98 persen.
Ini jadi pencapaian terendah, lho. Kalau dibandingin dengan jenis pajak daerah lain yang realisasinya bisa nyampe di atas 70 persen, bahkan ada yang tembus lebih dari 100 persen, BPHTB jelas tertinggal jauh.
Lantas, apa penyebabnya? Lusiana dan tim sudah menelusuri. Jawabannya sederhana tapi dampaknya besar: pasar properti lagi lesu. Penjualan sepanjang tahun kemarin benar-benar sepi.
"Kenapa BPHTB di DKI Jakarta tidak tercapai, ini sangat berpengaruh (terhadap) adanya penurunan penjualan properti di Provinsi DKI Jakarta,"
kata Lusiana di Balai Kota, Rabu lalu.
Menurutnya, situasi ini memaksa para pengembang berubah haluan. Daya beli masyarakat yang melemah bikin mereka mengubah strategi. Alih-alih menjual, banyak yang akhirnya memilih menyewakan unit apartemen yang mereka bangun.
"Kalau tadinya para pengembang itu membangun apartemen yang niat awalnya untuk dijual, karena memang penurunan daya beli masyarakat untuk membeli properti, sehingga itu saat ini adalah disewakan,"
ujarnya.
Artikel Terkait
Banjir Dua Meter Rendam Pela Mampang, Brimob Evakuasi Warga
Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Perairan dekat Sinabang, Tidak Berpotensi Tsunami
Anak Temukan Jasad Ibu Tinggal Tulang Belulang Saat Bersihkan Rumah di Depok
Pemerintah Tetapkan Aturan dan Besaran THR Lebaran 2026 untuk Pekerja Swasta