Lantas, apa yang mendorong semua ini? Menurut Pramono, pencapaian fiskal yang bagus ini tak lepas dari ekonomi Jakarta yang relatif stabil sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan ekonominya bertengger di 5,03 persen secara kumulatif. Inflasi pun bisa dikendalikan lebih ketat dibanding nasional, hanya 2,63 persen.
Di sisi lain, geliat investasi juga luar biasa. Realisasinya melesat hingga Rp 270,9 triliun, tumbuh hampir 12 persen. Rinciannya, PMDN menyumbang Rp 175,3 triliun dan PMA sekitar Rp 95,6 triliun. Angka ini berarti kontribusi Jakarta terhadap investasi nasional tidak main-main, sekitar 14 persen.
Bagi Pramono, fondasi fiskal yang kuat ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah modal nyata. Modal untuk menjalankan program-program prioritas yang sudah dirancang, mulai dari menjaga daya beli rakyat, subsidi transportasi, bantuan sosial, hingga upaya pengendalian inflasi ke depannya.
"Struktur ekonomi Jakarta berada dalam kondisi yang solid dan menjadi penopang utama keberlanjutan program-program pembangunan yang sudah disusun," pungkas Gubernur menutup paparannya.
Artikel Terkait
Kemendagri Pastikan Pelayanan di Pati dan Madiun Tetap Lancar Meski Kepala Daerah Ditahan
Teguran di Tengah Macet Berujung Tusukan Obeng di Jagakarsa
Yusril: RUU Disinformasi Bentengi Indonesia dari Propaganda Asing
KPK Pastikan Lahan Meikarta Clear and Clean untuk Rusun Subsidi