Namun begitu, realitanya tak sesederhana itu.
Persoalan klasik ketimpangan justru muncul ke permukaan. Dari total sekitar 3,47 juta guru di tahun ajaran 2025/2026, hampir separuhnya tepatnya 44% atau sekitar 1,5 juta guru berkumpul di Pulau Jawa. Bayangkan. Konsentrasi yang begitu masif ini tentu menciptakan kesenjangan yang lebar dengan daerah lain.
Menurut Rerie, kondisi seperti ini harus segera ditangani dengan aksi nyata. Redistribusi guru yang sudah diagendakan adalah salah satu jawabannya. Tapi, dia menekankan, kebijakan ini butuh dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan di daerah. Tanpa itu, rencana sebaik apa pun bisa mentok di tengah jalan.
Dia pun mendorong agar tahun ini, selain fokus pada program revitalisasi sekolah, langkah redistribusi guru juga bisa berjalan mulus. Impiannya sederhana: sarana yang lengkap didukung tenaga pendidik berkualitas yang tersebar merata.
Jika itu terwujud, bukan tidak mungkin proses membangun SDM nasional yang tangguh dan berdaya saing bakal jauh lebih cepat. Masa depan pendidikan, pada akhirnya, ditentukan oleh langkah-langkah strategis hari ini.
Artikel Terkait
Suara dari Bawah Reruntuhan: Longsor Terjang Perkemahan di Selandia Baru
Kompolnas Soroti Dukungan Anggaran untuk Ditres PPA dan PPO yang Baru Diluncurkan
Kebakaran Hanguskan Rumah di Kwitang, 60 Personel Dikerahkan
Genangan Air di 60 Desa Pati, Warga Berharap Solusi Baru Usai Kasus Bupati