Davos Bergemuruh: Trump dan Dunia yang Retak di Panggung Elite Global

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:30 WIB
Davos Bergemuruh: Trump dan Dunia yang Retak di Panggung Elite Global

Di satu sisi, ekonomi dunia ternyata cukup tangguh menghadapi ketegangan perdagangan. Investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) di AS disebut-sebut menjadi penyangga utama. Tapi di sisi lain, proyeksi pertumbuhan global 3,1% hingga 2026 dinilai belum ideal. Apalagi utang global sudah melambung ke level yang belum pernah terjadi sejak era Perang Dunia II.

Beberapa negara di Afrika, kata IMF, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Perdagangan global sendiri masih tertekan. Semakin banyak negara yang memilih kebijakan proteksionis: menaikkan tarif sepihak, membatasi investasi asing, mengontrol pasokan mineral kritis. Laporan Risiko Global WEF pekan lalu menempatkan konfrontasi ekonomi antarnegara ini di posisi puncak.

AI: Janji dan Ancaman yang Sama Besarnya

Kecerdasan buatan, seperti tahun-tahun sebelumnya, tetap menjadi fokus utama. Para raksasa teknologi seperti Satya Nadella (Microsoft), Jensen Huang (Nvidia), dan Demis Hassabis (Google) akan hadir membahasnya.

Teknologi ini memang menjanjikan revolusi di bidang medis dan pendidikan, dan telah menyerap triliunan dolar investasi. Namun, banyak perusahaan masih kebingungan mencari penerapan praktis yang benar-benar memberi nilai. Kekhawatiran terbesar ada pada dampaknya terhadap lapangan kerja.

Dario Amodei, CEO Anthropic, memberikan peringatan yang cukup suram.

"AI berpotensi menghilangkan setengah dari semua pekerjaan level awal di kantor dalam satu sampai lima tahun ke depan," ujarnya. Ia menekankan pentingnya investasi besar-besaran untuk pelatihan ulang tenaga kerja.

Risiko lainnya? AI bisa memperlebar kesenjangan digital, membuat negara miskin semakin tertinggal. Teknologi ini juga berpotensi melanggengkan bias, menyebarkan misinformasi, dan memproduksi deepfake konten palsu yang terlihat nyata. Tak heran, misinformasi dan keamanan siber masuk dalam daftar risiko global utama WEF. Regulasi yang efektif menjadi sebuah keharusan.

Era Baru Kepemimpinan WEF

Pertemuan tahun ini juga menandai babak baru. Untuk pertama kalinya, Klaus Schwab, sang pendiri legendaris, tidak lagi memimpin. Pria asal Jerman itu mengundurkan diri pada April 2025 setelah dituduh menggunakan dana WEF untuk kepentingan pribadi. Meski penyelidikan independen menyatakan tidak ada pelanggaran pidana hanya ketidakberesan administratif langkahnya mundur tetap menjadi akhir dari sebuah era.

Posisinya kini diisi sementara oleh dua co-chair: Larry Fink, CEO BlackRock, dan Andre Hoffmann, wakil ketua Roche Holdings. Kehadiran peserta yang kuat tahun ini tentu jadi angin segar bagi organisasi yang didirikan sejak 1971 ini. Di tengah memudarnya semangat multilateralisme dan tekanan terhadap perdagangan bebas, WEF jelas butuh momentum untuk membuktikan relevansinya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha


Halaman:

Komentar