Keadaan Asniah semakin terasa berat karena ia hidup sebatang kara. Suaminya telah meninggal enam tahun silam. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Ia harus mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan.
"Hidup sendiri, nggak bersuami. Kalau ada suami mendingan ada yang bantu. Ibu mah hanya bisa nangis doang semenjak uang ibu palid," tuturnya, mengaku kerap menangis sejak musibah itu.
Hingga kini, bantuan untuk kebutuhan sehari-hari pun belum ia terima. Meski begitu, di tengah keprihatinan yang mendalam, Asniah masih mencoba bersyukur. Syukur yang sederhana: nyawanya selamat.
"Ini bukan rekayasa, ibu bukan minta dikasih. Tapi yang penting ibu selamat," katanya.
Harapannya sekarang sederhana. Ia berharap ada hati yang tergerak untuk membantunya bangkit. Dan impian yang mungkin terdengar biasa bagi banyak orang, tapi sangat berarti baginya: memiliki rumah yang layak untuk ditinggali.
"Mudah-mudahan hati dermawan mau membantu ibu. Ibu juga pengen punya rumah layak seperti orang lain," pungkas Asniah.
Artikel Terkait
Sembunyi di Bawah Tanah: Rongga Karst dan Ancaman Lubang Runtuhan
Mantan Bos Garuda Ajukan PK, Bawa Dua Bukti Baru untuk Bebas
Putin Angkat Telepon, Tawarkan Diri Jadi Penengah di Tengah Ketegangan Israel-Iran
Iran Tangkap 3.000 Orang, Trump Ancam Serang Titik Terlemah