"Saya tahu masih banyak, dari Kementerian Perhubungan atau Sekolah Tinggi Intelijen misalnya. Kalau mau ngirim lagi, silakan saja," kata dia.
Memang, alat berat sangat dibutuhkan untuk membenahi jalan umum dan fasilitas publik. Tapi pekerjaan rumit justru ada di titik-titik yang lebih sempit.
"Kalau sudah masuk ke gang-gang, ke dalam rumah-rumah warga, alat berat enggak bisa masuk. Itu harus dikerjakan perorangan," imbuhnya.
Bagi Tito, logikanya sederhana: semakin banyak orang yang turun, proses pemulihan akan semakin cepat. Karena itu, dia mendorong penambahan personel TNI dan Polri di lokasi bencana.
"Saya dengar sudah hampir 1.000 personel yang di-BKO ke sana. Itu bagus. Tapi kalau bisa, TNI menambah 5.000 personel lagi, pemulihan akan jauh lebih cepat. Ditambah lagi dengan sekolah kedinasan," ucap Tito.
Tapi dia mengingatkan, mengirim orang saja tidak cukup. Peralatan pendukung yang memadai wajib disertakan.
"Lengkapi peralatan perorangannya. Pertama, sepatu boot karet. Lalu sekop dan cangkul. Alat dorong untuk tanah juga penting. Kemudian dump truck dan ekskavator – itu sangat membantu," paparnya.
Dan satu hal lagi yang sering terlupa: "Apalagi kalau ada semprotan air. Itu akan sangat meringankan pekerjaan mereka di lapangan."
Artikel Terkait
Wartawan Lagi Liput Curanmor, Malah Motornya Sendiri yang Raib
RUU Perampasan Aset: Ujian Nyata Komitmen DPR Berantas Korupsi
Cak Imin Peringatkan Ancaman Kemiskinan dan Tergerusnya Kelas Menengah Akibat Bencana Sumatera
Genangan Air Kembali Serbu Desa Idaman, Ratusan Jiwa Terdampak