Di lokasi utama Cirebon sendiri, panen difokuskan pada padi jenis Inpari 32 dan ikan nila. Dari lahan seluas lebih dari satu hektar, terkumpul 7.000 kilogram padi. Sementara dari kolam seluas 637 meter persegi, mereka panen satu ton ikan nila.
Pencapaian ini sebenarnya adalah kelanjutan dari program yang sudah berjalan. Sejak dicanangkan hingga akhir 2025, program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan ini telah melibatkan lebih dari 12.000 narapidana. Bayangkan, lahan yang mereka garap totalnya mencapai 4,4 juta meter persegi. Tak hanya hasil pangan, para napi juga mendapat manfaat ekonomi langsung, dengan total premi yang dibagikan mendekati satu miliar rupiah.
Intinya, program ini punya dua tujuan sekaligus. Selain membekali narapidana dengan keterampilan bertani, beternak, dan berbudidaya, juga ikut menyumbang pada swasembada pangan yang jadi visi pemerintahan sekarang. Menteri Agus sendiri kerap menyebut ini sebagai dukungan terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto.
Tak berhenti di sektor pangan, Agus Andrianto juga mendorong pemberdayaan di sektor UMKM. Bengkel-bengkel pelatihan di dalam lapas, katanya, harus benar-benar hidup dan menghasilkan, bukan sekadar jadi pajangan.
Jadi, dari balik tembok lapas, ternyata mengalir pula sumbangsih nyata untuk negeri. Sebuah langkah rehabilitasi yang berusaha menyentuh aspek kemandirian dan kontribusi sosial sekaligus.
Artikel Terkait
Bupati Bogor Turun Tangan Atasi Genangan Rutinan di Cibinong
Boyolali Bergemar, Ribuan Orang Rayakan Puncak Hari Desa Nasional 2026
Ammar Zoni Tolak Didampingi Pengacara, Tak Ingin Kasus Narkobanya Makin Ramai
Laras Bebas, Vonis Percobaan Akhiri Penahanan Setelah Unggahan Instagram