Langit di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 12 Januari 2026 itu cerah. Tapi di dalam tenda raksasa tempat acara berlangsung, suasana justru berubah haru. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, baru saja menyelesaikan laporannya tentang 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Penampilannya yang semula gagah, dengan baret merah dan kemeja putih, perlahan luluh. Di penghujung kata, langkahnya terasa berat. Tangga panggung seolah memanjang. Suaranya tiba-tiba hilang, tak sanggup lagi mengucapkan salam penutup.
Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, ia pun berkata.
“Dan kelak ketika anak-anak dari tepian sungai, dari lereng bukit dan sudut-sudut negeri ini berdiri sejajar, orang akan berbisik. Dulu, pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya sekolah rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto.”
Ucapan itu seperti memecah bendungan. Air mata pun mengalir, bukan hanya dari dirinya, tapi seakan dari pelosok negeri yang hadir di ruang itu. Hujan itu membasahi kemarau panjang yang dirasakan jutaan kaum duafa.
Emosi Gus Ipul itu ternyata menular. Menyebar ke hati 15.945 siswa Sekolah Rakyat yang hadir, lalu akhirnya mendarat di sanubari sang penggagas ide itu sendiri: Presiden Prabowo. Sang mantan panglima yang dikenal ‘keras’ itu mengaku ikut terseret arus haru.
“Saya sangat terkesima. Sangat terharu. Mudah-mudahan tadi kamera tidak mengarah ke saya. Sulit sekali menahan tangis. Sama seperti Mensos,” ujar Presiden.
Dan seketika, seluruh ruangan tenggelam dalam keheningan yang magis.
Sebelum momen mengharukan itu, layar besar di lokasi sekolah rintisan itu sebenarnya penuh dengan data. Gambar, bagan, dan tabel statis berjejer. Di sanalah Gus Ipul memaparkan kemajuan program, di hadapan para menteri, gubernur, hingga bupati dan walikota. Tapi presentasinya bukan sekadar angka. Ia menyelipkan suara-suara yang selama ini tenggelam oleh riuh pembangunan. Suara kaum papa yang bahkan terlalu lirih untuk dijadikan doa.
Kalau mau merujuk pada hadits, nasib orang yang terdzalimi itu jelas. Doa mereka, kata para perawi seperti Imam Tirmidzi atau Ahmad, ibarat kilat yang langsung menembus langit. Derajat si miskin yang tulus jauh berbeda dengan doa orang Farisi. Bagi mereka, kesempatan untuk ‘berhaji’ untuk dekat pada Tuhan terbuka setiap saat, tanpa biaya.
Semangat Seorang Panglima
Kilas balik ke 14 Juli 2025. Saat itu, sebuah gerakan senyap mulai merayap di 63 titik di Tanah Air. Ia bagai bara yang membakar bukit jerami, mengeluarkan asap tipis sebagai isyarat. Sebuah revolusi jiwa sedang bergolak dari kedalaman nurani, menyambut tantangan masa depan. Gejolaknya mengingatkan pada semangat Panglima Thariq bin Ziyad saat mendarat di Semenanjung Iberia.
Kala itu, Thariq memerintahkan pasukannya membakar semua kapal. Lalu, dengan semangat berkobar, ia berteriak.
“Wahai pasukanku! Mau lari ke mana? Lautan di belakang, musuh di depan! Hanya keberanian yang bisa menyelamatkan kita. Lihat keadaan kalian sekarang, bagaikan anak yatim yang terdampar!”
“Musuh di depan sana kuat, mengepung seperti gelombang laut. Buanglah rasa takut! Percayalah, kemenangan akan kita raih. Jika aku gugur sebelum menantang rajanya, jangan gentar! Teruslah bertempur seolah aku masih ada. Karena jika rajanya jatuh, musuh akan kalang kabut.”
“Tapi jika aku gugur setelah rajanya tumbang, pilihlah pemimpin baru dari kalian yang paling berani dan cakap,” seru Thariq membakar semangat.
Mereka yang Lupa Bertanya pada Mikail
Kembali ke masa kini, barisan muda kaum duafa itu jumlahnya ribuan. Mereka menyebar, bergerak dengan energi menggebu. Kaki melangkah pasti, tangan tergenggam, dada membusung. Mereka dilepas dengan doa, dan diharap pulang membawa kemenangan. Kembali dengan jiwa baru dan peta hidup yang mampu menaklukkan badai.
Mereka adalah laskar yang lahir dari orang tua sederhana. Orang tua yang tak punya tanah kecuali tanah Tuhan. Yang keringatnya asin karena terus berenang di lautan kehidupan yang garang. Tulang-tulang mereka mengeras melawan angin malam. Ujian hidup mereka tidak tertulis di buku pelajaran mana pun. Mereka adalah orang-orang yang, boleh dibilang, sudah lupa cara menanyakan nasib kepada Malaikat Mikail.
Nah, pada 12 Januari 2026 itu, semangat Thariq bin Ziyad seolah hidup kembali di langit Nusantara. Sang jenderal Umayyah penakluk Andalusia itu, dengan pidatonya yang membakar, hadir dalam bentuk lain. Suaranya menggema lewat gagasan Presiden Prabowo, menyemangati ‘pasukan’ yang tak punya pilihan selain maju. Menoleh ke belakang? Hanya ada masa lalu suram yang siap menerkam.
Iso Gemuyu
Gus Ipul sering mengutip mantan Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer, seperti sebuah mantra. “Agawe Wong Cilik Melu Gemuyu.” Membuat rakyat kecil ikut tertawa. Ucapan tahun 1973 itu membuat Cak Noer dijuluki ‘gubernurnya rakyat kecil’.
Presiden Prabowo punya versi yang lebih sederhana. Saat pelantikannya, 20 Oktober 2024, ia mengatakan, “Wong cilik iso gemuyu.” Empat kata inilah yang kerap jadi pengantar Gus Ipul menjelaskan program Kemensos. Kelompok sasaran utamanya jelas: mereka yang paling membutuhkan.
Memang ada pepatah bahwa kefakiran bisa mendekatkan pada kekufuran. Tapi di sisi lain, kemiskinan juga bisa jadi ladang amal bagi yang lain. Itulah misi Kementerian Sosial: perlindungan, jaminan, rehabilitasi, dan pemberdayaan. “Jangan pernah abai,” begitu pesannya.
Sejak 12 Januari kemarin, misi itu didekatkan ke jantung masalah. Menghadapi kemiskinan akut dengan pendekatan baru. Bagai teriakan Thariq, kini para kepala sekolah, guru, dan siswa Sekolah Rakyat berikrar tak akan mundur. “Jangan kembali pulang!” seru mereka, bagai laskar cilik yang melepas kepergian ke medan juang.
Derap Doa yang Tak Terlihat
Hari itu, Senin 12 Januari 2026, segala sesuatu bergerak pelan tapi pasti. Ribuan anak muda dari keluarga kurang mampu melangkah dengan niat kuat. Mereka bersiap menyeberangi sungai kehidupan yang curam, menuju Sekolah Rakyat. Sebuah penjelajahan menuju masa depan yang belum pasti.
Tapi satu hal yang pasti: dari pelosok negeri, mengalir doa bersama. Deras, bagai gelombang elektromagnetik yang tak terlihat. Doa orang tua, sanak famili, tetangga, dan guru. Seluruh bangsa ikut mendoakan laskar duafa ini, seperti Thariq mendoakan pasukannya.
“Duhai Tuhan, menyayangi fakir miskin adalah perintah-Mu. Kuatkan kami untuk membersamai mereka. Kuatkan anak-anak kami. Kuatkan langkah mereka untuk belajar, taat pada firman-Mu.”
Ishaq Zubaedi Raqib, Staf Khusus Menteri Sosial RI
Artikel Terkait
717 Jemaah Haji Banjarmasin Dilepas, Aksesibilitas Disabilitas dan Lansia Jadi Prioritas
MUI dan Dubes Saudi Bahas Dampak Global Konflik Timur Tengah di Jakarta
Israel Hancurkan Jembatan Vital Penghubung Tyre-Sidon di Lebanon Selatan
Tujuh Dapur Gizi di Manokwari Masih Ditangguhkan Gara-gara IPAL Tak Standar