Mereka yang Lupa Bertanya pada Mikail
Kembali ke masa kini, barisan muda kaum duafa itu jumlahnya ribuan. Mereka menyebar, bergerak dengan energi menggebu. Kaki melangkah pasti, tangan tergenggam, dada membusung. Mereka dilepas dengan doa, dan diharap pulang membawa kemenangan. Kembali dengan jiwa baru dan peta hidup yang mampu menaklukkan badai.
Mereka adalah laskar yang lahir dari orang tua sederhana. Orang tua yang tak punya tanah kecuali tanah Tuhan. Yang keringatnya asin karena terus berenang di lautan kehidupan yang garang. Tulang-tulang mereka mengeras melawan angin malam. Ujian hidup mereka tidak tertulis di buku pelajaran mana pun. Mereka adalah orang-orang yang, boleh dibilang, sudah lupa cara menanyakan nasib kepada Malaikat Mikail.
Nah, pada 12 Januari 2026 itu, semangat Thariq bin Ziyad seolah hidup kembali di langit Nusantara. Sang jenderal Umayyah penakluk Andalusia itu, dengan pidatonya yang membakar, hadir dalam bentuk lain. Suaranya menggema lewat gagasan Presiden Prabowo, menyemangati ‘pasukan’ yang tak punya pilihan selain maju. Menoleh ke belakang? Hanya ada masa lalu suram yang siap menerkam.
Iso Gemuyu
Gus Ipul sering mengutip mantan Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer, seperti sebuah mantra. “Agawe Wong Cilik Melu Gemuyu.” Membuat rakyat kecil ikut tertawa. Ucapan tahun 1973 itu membuat Cak Noer dijuluki ‘gubernurnya rakyat kecil’.
Presiden Prabowo punya versi yang lebih sederhana. Saat pelantikannya, 20 Oktober 2024, ia mengatakan, “Wong cilik iso gemuyu.” Empat kata inilah yang kerap jadi pengantar Gus Ipul menjelaskan program Kemensos. Kelompok sasaran utamanya jelas: mereka yang paling membutuhkan.
Memang ada pepatah bahwa kefakiran bisa mendekatkan pada kekufuran. Tapi di sisi lain, kemiskinan juga bisa jadi ladang amal bagi yang lain. Itulah misi Kementerian Sosial: perlindungan, jaminan, rehabilitasi, dan pemberdayaan. “Jangan pernah abai,” begitu pesannya.
Sejak 12 Januari kemarin, misi itu didekatkan ke jantung masalah. Menghadapi kemiskinan akut dengan pendekatan baru. Bagai teriakan Thariq, kini para kepala sekolah, guru, dan siswa Sekolah Rakyat berikrar tak akan mundur. “Jangan kembali pulang!” seru mereka, bagai laskar cilik yang melepas kepergian ke medan juang.
Derap Doa yang Tak Terlihat
Hari itu, Senin 12 Januari 2026, segala sesuatu bergerak pelan tapi pasti. Ribuan anak muda dari keluarga kurang mampu melangkah dengan niat kuat. Mereka bersiap menyeberangi sungai kehidupan yang curam, menuju Sekolah Rakyat. Sebuah penjelajahan menuju masa depan yang belum pasti.
Tapi satu hal yang pasti: dari pelosok negeri, mengalir doa bersama. Deras, bagai gelombang elektromagnetik yang tak terlihat. Doa orang tua, sanak famili, tetangga, dan guru. Seluruh bangsa ikut mendoakan laskar duafa ini, seperti Thariq mendoakan pasukannya.
“Duhai Tuhan, menyayangi fakir miskin adalah perintah-Mu. Kuatkan kami untuk membersamai mereka. Kuatkan anak-anak kami. Kuatkan langkah mereka untuk belajar, taat pada firman-Mu.”
Ishaq Zubaedi Raqib, Staf Khusus Menteri Sosial RI
Artikel Terkait
Menu Ayam Diduga Picu Keracunan Massal, 803 Orang Terjangkit di Grobogan
Kudus Darurat Banjir: 33 Ribu Jiwa Terdampak, Tiga Korban Meninggal
Upaya Damai Inara Rusli Ditolak Tegas, Restorative Justice Mentok di Penolakan Mawa
Lab Narkoba Etomidate Digagalkan di Apartemen Mewah Pluit