"Saya mendapat informasi bahwa anggaran untuk Aceh Tamiang gelombang pertama itu tanpa melalui administrasi (terlebih dahulu), administrasi nyusul, uangnya duluan,"
katanya tegas.
Ia mendorong pemda agar pakai anggaran itu dengan bijak. Prioritas pertama? Bayar gaji pegawai. Logikanya sederhana: daya beli pulih, ekonomi bergerak. Setelah itu, baru dialihkan untuk perbaikan fasilitas kantor yang rusak, beli meja, kursi, atau komputer yang hilang.
Tak cuma uang, Kemendagri juga turunkan tangan. Dua orang ahli keuangan daerah ditugaskan khusus untuk mendampingi Pemkab Tamiang. Tujuannya, bantu urusan administrasi dan koordinasi dengan DPRD agar keputusan cepat diambil, tapi tetap akuntabel.
Langkah berikutnya sudah disiapkan. Personel tambahan dari TNI-Polri akan dikerahkan untuk pembersihan lebih menyeluruh, dari rumah ke rumah. Perlengkapan pendukung seperti ribuan pasang sepatu bot juga sedang dikirim.
"Supaya bisa bermanfaat dalam menghadapi pemulihan ini di tengah daerah yang masih becek-becek,"
tandas Tito. Bekas lumpur itu perlahan akan hilang, digantikan oleh langkah-langkah warga dan pemerintah yang berusaha bangkit bersama.
Artikel Terkait
PDI Perjuangan Bantah Konsep Koalisi Permanen dalam Sistem Presidensial
Siaga Banjir di Pluit, Polairud Kerahkan Perahu Pantau Permukiman Rawan
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Air Mata Haru dan Target 500 Titik
Guru Terluka di Banjir Pademangan Dievakuasi dengan Perahu Karet