Senin lalu, di Banjarbaru, suasana berbeda terasa. Presiden Prabowo Subianto meresmikan program Sekolah Rakyat, sebuah gebrakan pendidikan gratis berbasis asrama untuk anak-anak dari keluarga paling membutuhkan. Kriteria penerimanya mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, dengan harapan bisa memutus siklus kemiskinan yang sudah turun-temurun.
Acara peresmian dipusatkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, yang berada di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial setempat. Namun, momen ini juga disiarkan serentak ke seluruh titik Sekolah Rakyat lain di Indonesia, menandai dimulainya sebuah babak baru.
Prabowo tiba sekitar pukul 11.10 waktu setempat. Ia lalu berkeliling, meninjau fasilitas yang tersedia. Dari ruang kelas, lab komputer, hingga asrama tempat tinggal siswa. Sambutan hangat datang dari para siswa, berupa yel-yel dan tarian khas Banjar, yang langsung diresponnya dengan canda dan interaksi.
Tak lama kemudian, dengan menekan tombol sirine, ia secara resmi meluncurkan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Perwakilan siswa dari berbagai daerah pun unjuk kebolehan, mulai dari paduan suara, teater, sampai atraksi baris-berbaris yang dinamis.
Dalam sambutannya, Prabowo tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Kementerian Sosial dan semua pihak yang terlibat.
"Terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini. Saya terus terang saja cukup bahagia, cukup besar hati. Bahkan terharu, sebetulnya, melihat dampak daripada upaya kita," ujarnya.
Ia mengaku bangga melihat perubahan pada diri siswa hanya dalam waktu enam bulan. Berbagai penampilan dan prestasi mereka, menurutnya, adalah bukti nyata.
"Sulit saya tahan air mata juga, sama dengan Mensos. Kita terharu, kita keluar air mata karena apa? Karena bangga, karena bahagia melihat anak-anak kita. Dan kita teringat... bayangkan, kalau waktu itu saya dan menteri-menteri tidak ambil sikap yang berani," sambungnya.
Ambisi ke depan pun diungkapkan. Prabowo menargetkan pembangunan 500 sekolah rakyat lagi, dengan kapasitas ideal seribu siswa per sekolah.
"Saya percaya di ujungnya kita akan capai target kita 500 titik. Sasaran kita adalah tiap sekolah nanti menampung 1.000 murid," katanya.
Untuk saat ini, 166 sekolah perintisan itu masih menumpang di fasilitas milik Kemsos, Balai Latihan Kerja, atau aset pemda. Namun, pemerintah sudah menyiapkan langkah lanjutan. Kementerian PUPR ditargetkan membangun 104 gedung permanen secara bertahap.
Yang menarik, program ini tidak sekadar menyekolahkan anak. Sekolah Rakyat dirancang sebagai solusi komprehensif. Integrasinya menjangkau orang tua siswa, lewat program 3 juta rumah, cek kesehatan gratis, hingga bantuan sosial PKH dan sembako. Siswa juga diarahkan berdasarkan bakat lewat DNA Talent Mapping, dibekali karakter dan keterampilan untuk siap kerja atau lanjut studi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya melaporkan, saat ini sudah ada 15.945 siswa yang terdaftar di 166 titik tersebut. Mereka didukung oleh ribuan guru dan tenaga kependidikan untuk jenjang SD sampai SMA.
"Perlu kami sampaikan bahwa total ada 166 titik, yang tersebar di 34 provinsi dan 131 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia," jelas Gus Ipul.
Peresmian hari itu dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Tampak hadir Menko PMK Abdul Muhaimin Iskandar, Menko PMK Pratikno, hingga Panglima TNI dan Kapolri. Kehadiran mereka seolah menegaskan, program ini adalah prioritas bersama.
Artikel Terkait
Belanja Daring Makin Dominasi Gaya Hidup, INFOBRAND Forum 2026 Soroti Strategi Marketplace Bertahan di Tengah Persaingan Digital
Penjaga Pantai Italia Temukan 10 Jenazah Migran Akibat Kecelakaan Kapal di Perairan Malta
Bidan di Situbondo Tewas Dibanting Batu oleh Suami, Cemburu Buta Jadi Motif Pembunuhan
Pertamina Tangani Kebocoran Pipa Gas di Bekasi Kurang dari 90 Menit