Kalau bicara soal keindahan Bali, Danau Batur pasti masuk daftar. Permata air yang terletak di kaldera Gunung Batur, Kabupaten Bangli ini, memang luar biasa. Bukan cuma soal pemandangan yang memukau, tapi danau ini adalah nadi kehidupan. Sumber air, ladang ikan, dan penopang pariwisata bagi warga sekitarnya.
Tapi, di balik permukaannya yang tenang dan memikat, ada ancaman yang jarang disorot. Sesuatu yang perlahan-lahan mengendap: akumulasi zat pencemar yang berpotensi menjadi racun diam-diam bagi ekosistem dan manusia.
Danau yang Subur, tapi Rentan
Aktivitas di sekitar Danau Batur makin ramai beberapa tahun belakangan. Keramba jaring apung, lahan pertanian di lereng, permukiman, dan derasnya kunjungan wisatawan jelas mendongkrak ekonomi. Namun begitu, dampak ekologisnya mulai terasa. Limbah organik, sisa pakan ikan, pupuk dari pertanian, bahkan residu logam dari aktivitas vulkanik semuanya berpotensi menumpuk di perairan dan sedimen danau.
Nutrien seperti nitrogen dan fosfor dari sisa pakan dan kotoran ikan membuat air danau subur. Itu bagus untuk produktivitas perikanan. Namun di sisi lain, kelebihan nutrien bisa memicu eutrofikasi. Ledakan alga yang ujung-ujungnya menyedot oksigen terlarut. Saat oksigen merosot, senyawa beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida lebih mudah terbentuk. Zat-zat ini, dalam konsentrasi tertentu, beracun bagi ikan dan organisme air lainnya.
Kasus kematian ikan massal yang sesekali terjadi di danau tropis sering dikaitkan dengan mekanisme ini. Yang lebih mengkhawatirkan, sedimen danau berperan seperti "bank" penyimpanan pencemar. Logam berat dan residu kimia mengendap di lumpur, lalu perlahan-lahan bisa meresap kembali ke rantai makanan lewat organisme dasar.
Racun yang Bisa Naik ke Meja Makan
Ancaman sebenarnya bukan cuma pada airnya. Melainkan pada rantai makanan yang berujung ke piring kita. Zat beracun bisa terakumulasi di tubuh organisme dan semakin pekat saat naik ke tingkat trofik yang lebih tinggi. Bayangkan: fitoplankton menyerap pencemar dari air, zooplankton memakannya, lalu ikan kecil menyantap zooplankton. Ikan konsumsi yang kita tangkap berada di puncak rantai ini.
Proses yang disebut biomagnifikasi ini membuat konsentrasi racun di tubuh ikan bisa jauh lebih tinggi dibanding di air. Bagi masyarakat sekitar dan wisatawan yang gemar menyantap ikan dari Danau Batur, isu ini sudah melampaui sekadar persoalan lingkungan. Ini soal keamanan pangan.
Antara Ekonomi dan Daya Dukung
Tak bisa dimungkiri, budidaya ikan di keramba jaring apung adalah tulang punggung ekonomi warga sekitar. Tapi tanpa pengelolaan yang memerhatikan daya dukung, aktivitas ini bisa jadi bumerang. Semakin padat kerambanya, semakin berat beban nutrien dan limbah yang masuk ke danau. Masalahnya, pencemaran jarang memberi dampak instan.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan Senin Ini, Investasi Rp 123 Triliun untuk Hentikan Impor BBM
Dari Truk Dakar hingga Motor Listrik: Wajah Otomotif yang Terus Berubah
Harga Pertamax dan Dexlite Turun, Pertalite Tetap Bertahan
Iran Ancam Balas AS dan Israel di Tengah Kerusuhan yang Tak Kunjung Padam