"Lebih jauh lagi, dengan mengancam Greenland, AS telah merusak kekompakan dalam NATO. Harga diri aliansi itu di hadapan Rusia dan China bisa anjlok. Bisa dibilang, NATO mulai mengeropos di era Donald Trump," paparnya.
Ia lalu mengingatkan skenario yang mungkin terjadi ke depan. Diperkirakan, AS akan mengincar negara-negara kaya energi lainnya di berbagai belahan dunia. "Negara-negara mulai memikirkan skenario terburuk. Mereka sudah melihat betapa menakutkannya serangan AS atas Venezuela dan prospek serupa untuk Kanada atau Meksiko. Keadaan ini sangat mencemaskan," tambahnya.
Lalu, bagaimana sebenarnya pernyataan Trump itu muncul?
Seperti dilansir Anadolu Agency dan Japan Times, Jumat (9/1), semua berawal dari sebuah wawancara dengan New York Times (NYT). Dalam dialog yang dirilis Rabu (7/1) waktu setempat itu, Trump ditanya soal batasan kekuasaannya sebagai pemimpin AS.
Jawabannya singkat tapi menggegerkan.
"Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya," kata Trump.
Saat itu juga, dengan tegas ia menyatakan, "Saya tidak membutuhkan hukum internasional."
Meski terdengar keras, di akhir pernyataannya Trump sedikit melunak. "Saya tidak berniat menyakiti orang-orang," imbuhnya. Dan ketika didesak lebih lanjut oleh NYT tentang apakah pemerintahannya perlu patuh pada hukum internasional, jawabannya berubah: "Iya perlu."
Sebuah pernyataan yang kontradiktif, dan justru di situlah letak kompleksitasnya.
Artikel Terkait
Mencekam! Pencuri Motor di Palmerah Nembak Warga, Berakhir Ditangkap di Yogya dan Cimahi
Paket All In Rp 23 Miliar yang Gagal, Pimpinan KPP Jakut Jadi Tersangka Suap Pajak
Iran Balas Ancaman Trump: AS dan Israel Jadi Sasaran Sah
Cemburu Buta Berujung Aib: Pacar Dianiaya dan Dipermalukan di Kendari