Di bawah terik matahari Minggu siang, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampak berdiri di antara nisan-nisan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Ia didampingi Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Foke. Mereka berdua sedang berziarah ke makam Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin, memperingati haul ke-85 sang tokoh.
“Saya berterima kasih sudah diundang Majelis Kaum Betawi hari ini,” ujar Pramono kepada para wartawan yang menunggu.
Suaranya terdurah jelas di antara kesunyian area pemakaman. Ia lalu bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu, saat pertama kali membaca sepak terjang MH Thamrin. “Saya adalah orang yang membaca, waktu masih mahasiswa, tentang peran dan kontribusinya bagi bangsa,” kenangnya.
Narasi itu membawanya pada sosok Sukarno. Menurut Pramono, hubungan antara Thamrin dan Bung Karno sangatlah erat. Bahkan ketika Sang Proklamator dalam pembuangan, Thamrin termasuk yang rutin menjalin komunikasi.
“Karena Thamrin saat itu menguasai bahasa Inggris dan Belanda, ya mereka berbagi peran,” jelasnya. Peran itulah yang disebut Pramono sangat krusial: MH Thamrin menjadi semacam jembatan, penyambung lidah antara pejuang Indonesia dan penjajah.
Karena itu, tegasnya, figur MH Thamrin bukan cuma milik orang Betawi.
“Dia milik seluruh bangsa Indonesia. Apalagi sejak Juli 1960, Bung Karno sudah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Hubungan mereka kan memang dekat sekali,” tambah Pramono.
Di sisi lain, momen haul ini ia harap bisa jadi pemersatu. Ada harapan besar yang ia sampaikan, bahkan disertai permintaan langsung kepada Foke yang hadir di sampingnya.
Artikel Terkait
Cemburu Buta Berujung Aib: Pacar Dianiaya dan Dipermalukan di Kendari
Iran Ancam AS dan Israel, Korban Kerusuhan Tembus 500 Jiwa
Piton Raksasa Telan Kambing Hidup-Hidup, Warga Buton Buru dan Tumpas
Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 5 Kilometer, Status Tetap Siaga