Trump Ancam Iran, Khamenei Tak Gentar: Gejolak Jalanan Berubah Jadi Perlawanan Politik

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:55 WIB
Trump Ancam Iran, Khamenei Tak Gentar: Gejolak Jalanan Berubah Jadi Perlawanan Politik

Iran sedang menghadapi situasi yang pelik. Presiden AS Donald Trump dengan lantang menyebut negara itu dalam 'masalah besar,' menyoroti gelombang protes anti-pemerintah yang tak kunjung reda.

Dari Gedung Putih, Trump berbicara kepada awak media. Suasana saat itu baru usai pertemuannya dengan sejumlah eksekutif perusahaan minyak dalam negeri.

"Menurut saya, rakyat sedang menguasai beberapa kota yang beberapa minggu lalu tidak pernah terpikirkan sebelumnya," ujarnya.

Ia juga kembali mengingatkan ancamannya yang lama. Peringatan itu ditujukan kepada otoritas Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa. AS, katanya, mengawasi dengan ketat.

"Kami akan terlibat. Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka," tegas Trump.

Meski begitu, ia buru-buru meluruskan. Pernyataan keras itu bukan berarti Amerika akan mengirim pasukan darat. Trump menggambarkan situasi di Iran sebagai sesuatu yang "sangat luar biasa," bahkan "menakjubkan untuk disaksikan."

Gejolak dari Jalanan

Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersikukuh tak akan mundur. Pernyataannya pada Jumat lalu adalah jawaban atas aksi protes yang sudah berlangsung hampir dua pekan.

Jalan-jalan di kota besar Iran ramai oleh kerumunan massa. Mereka membakar gedung-gedung pemerintah dan meneriakkan yel-yel penentangan, seperti "matilah diktator." Awalnya, ini semua dipicu oleh ekonomi yang morat-marit inflasi melambung dan nilai mata uang terjun bebas.

Tapi sekarang, nuansanya berubah. Tuntutan ekonomi berbalut kemarahan politik. Slogan-slogan menentang Khamenei menggema, bukan cuma di Teheran, tapi juga di berbagai penjuru.

Menanggapi hal ini, pemerintah mengambil langkah drastis: memutus akses internet secara nasional. NetBlocks, lewat platform X, mengonfirmasi pemadaman total yang dimulai Kamis sore waktu setempat.

Bagi para pengamat, ini adalah taktik lama. Dengan memutus koneksi, otoritas berharap bisa membatasi penyebaran informasi dan mencegah video kekerasan beredar ke mata dunia. Upaya untuk meredam gejolak yang kian meluas.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar