Sekolah Rakyat Prabowo: Upaya Konkret Atasi Ketimpangan Pendidikan?
Dari Jakarta, gelombang dukungan terus mengalir untuk program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Kali ini, suara itu datang dari kalangan aktivis Muhammadiyah. Farid Idris, salah satu tokohnya, melihat inisiatif ini bukan sekadar program biasa. Ia menilai ini sebagai langkah strategis negara untuk membuka akses pendidikan sekaligus mengikis kemiskinan struktural yang sudah mengakar.
Bagi Farid, pendidikan adalah kunci pemutus rantai kemiskinan. Tapi ia menegaskan, yang dimaksud bukan pendidikan sekadar formalitas belaka.
“Sekolah Rakyat adalah cara Presiden Prabowo meningkatkan kualitas pendidikan anak Indonesia, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Anak-anak ini akhirnya bisa menikmati pendidikan dengan standar yang baik, bukan pendidikan seadanya,” ujar Farid, Kamis lalu.
Persoalannya selama ini, menurutnya, sangat mendasar. Bukan cuma soal kurikulum yang berubah-ubah, melainkan ketimpangan akses yang telanjang. Banyak anak dari keluarga miskin terpaksa berhenti sekolah. Biaya jadi alasan utama, ditambah jarak tempuh yang jauh dan fasilitas yang serba minim.
Nah, di sinilah Sekolah Rakyat hadir sebagai terobosan. Program ini dirancang untuk menjangkau mereka yang selama ini tersisih: anak dari keluarga miskin ekstrem, yang putus sekolah, atau yang tinggal di daerah terpencil dan padat penduduk.
“Kalau akses pendidikan dibuka secara serius, maka anak-anak ini punya peluang yang sama untuk berkembang. Negara tidak boleh membiarkan faktor ekonomi menjadi alasan anak kehilangan masa depan,” tegasnya.
Yang menarik, Farid menekankan bahwa Sekolah Rakyat bukan cuma soal gratis. Poin utamanya adalah standar. Sekolah ini mesti dibangun dengan kualitas pengajaran yang mumpuni, fasilitas layak, dan pembinaan karakter. Pendidikan untuk kelompok miskin, katanya, jangan sampai dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Justru mereka butuh perhatian lebih besar.
“Sekolah Rakyat harus menjadi sekolah yang bermutu. Dengan standar pendidikan yang bagus, anak-anak ini bisa tumbuh menjadi generasi penerus yang unggul dan berdaya saing,” kata Farid.
Ia bahkan punya visi lebih jauh. Jika kualitasnya terjaga, lulusan Sekolah Rakyat punya peluang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Dampaknya tentu tidak instan. Tapi dalam jangka panjang, program ini bisa jadi instrumen efektif pengentasan kemiskinan. Anak-anak yang terdidik akan punya kemampuan dan kepercayaan diri untuk bersaing di dunia kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Dengan begitu, kemiskinan tak lagi diwariskan turun-temurun.
“Ketika anak-anak ini bisa kuliah, punya keterampilan, dan bekerja dengan layak, maka ekonomi keluarga mereka akan terangkat. Inilah esensi pendidikan sebagai alat pembebasan,” jelasnya.
Sebagai aktivis Muhammadiyah, Farid melihat keselarasan. Nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah, yang sejak awal menempatkan pendidikan sebagai sarana pemberdayaan, sejalan dengan semangat Sekolah Rakyat. Organisasi ini punya sejarah panjang membangun sekolah dan kampus untuk masyarakat, khususnya kelompok marjinal. Dukungannya terhadap program pemerintah ini ia sebut sebagai konsistensi moral dalam memperjuangkan keadilan sosial.
“Muhammadiyah selalu mendorong negara hadir dalam urusan pendidikan. Sekolah Rakyat adalah wujud nyata kehadiran negara bagi rakyat kecil,” ujarnya.
Meski mendukung, Farid tidak tutup mata. Ia mengingatkan pentingnya pengawasan dan komitmen yang kuat. Program ini jangan sampai cuma jadi wacana atau proyek jangka pendek yang mentah di tengah jalan. Pemerintah, menurutnya, harus memastikan beberapa hal: kualitas guru yang mumpuni, kurikulum yang relevan, fasilitas yang layak dan merata, serta keberlanjutan pendanaan.
“Jangan sampai Sekolah Rakyat hanya bagus di awal, tetapi melemah di tengah jalan. Konsistensi adalah kunci,” tegasnya.
Di tengah persaingan global yang ketat, Farid meyakini investasi di pendidikan adalah pilihan paling masuk akal. Sekolah Rakyat, jika dikelola dengan serius dan konsisten, bisa jadi fondasi kokoh untuk menyiapkan generasi Indonesia yang tak cuma cerdas, tapi juga berkarakter dan mampu bersaing.
“Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Memberi mereka pendidikan berkualitas berarti sedang membangun Indonesia di masa depan,” pungkas Farid.
Artikel Terkait
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi