Dia mengakui, omzet dari jualan tikar ini fluktuatif. Kadang ramai, tak jarang juga sepi. Tapi di momen puncak liburan seperti sekarang, rezekinya bisa jauh lebih baik.
"Ya nggak tentu sih untungnya. Bisa cuma dapet Rp 300 ribu sehari, itu pun habis buat kebutuhan. Tapi kalau lagi rame-ramenya, Alhamdulillah, bisa lebih," tutur Dede.
Dia lalu merinci. Dalam seminggu berjualan di puncak liburan, penghasilan kotornya bisa menyentuh angka sekitar Rp 2 juta. Tentu, angka itu belum dipotong biaya dan bagi hasil.
"Kira-kira segitu lah, kalau lagi bagus. Tergantung laku berapa lembar. Kalau ramai, sehari bisa laku 50 lembar. Kalau sepi, ya 20-an. Satu tikar harganya Rp 10 ribu, dan itu masih dibagi dua dengan pemilik barang," tambahnya sambil menyusun tikar-tikarnya.
Cerita Dede ini cuma satu dari sekian banyak. Di sisi lain, riuh rendah pengunjung Ragunan memang seperti musik latar yang menghidupi puluhan pedagang musiman lainnya. Mereka mengandalkan momen ini, menumpuk sedikit harapan di antara tumpukan tikar plastik berwarna-warni, untuk menyambung hidup.
Artikel Terkait
Ammar Zoni Buka Suara Soal Dua Ponsel Misterius di Rutan Salemba
Gus Ipul: Data Akurat dan Kolaborasi Daerah Kunci Sukses Program Kemensos
Macet Pagi di Bogor Berujung Penangkapan Pelaku Tawuran
Kemlu Pantau WNI di Eropa Terlanda Badai Salju, Belum Ada Korban Dilaporkan