Di ruang rapat Kementerian Sosial, Menteri Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menyambut sejumlah kepala daerah. Suasana cukup hangat. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas belaka. Gus Ipul punya pesan penting yang ingin disampaikan langsung: kolaborasi adalah kunci.
“Saya mengajak bapak-ibu sekalian untuk berkolaborasi dengan banyak pihak,” ujarnya, Kamis lalu.
“Kerja sendiri-sendiri itu nggak efektif. Mari kita jadi satu tim besar untuk menyukseskan program-program presiden.”
Menurutnya, ada tiga mandat utama dari Presiden yang harus dijalankan Kemensos. Pertama, soal data. Penyusunan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) harus jadi basis utama setiap program bantuan. Tanpa data yang akurat dan terus diperbarui, bantuan bisa meleset sasaran. Yang kedua, pendirian Sekolah Rakyat. Ini langkah konkret memutus lingkaran kemiskinan. Dan ketiga, pemberdayaan sosial bagi mereka yang masih usia produktif, agar tidak selamanya bergantung pada bansos.
Nah, untuk mewujudkan semua itu, peran pemerintah daerah dinilai krusial. Bahkan, bisa dibilang faktor penentu. Makanya, Gus Ipul menekankan perlu ada keterlibatan serius dari tingkat kabupaten dan kota.
Ia lalu merinci setidaknya lima hal yang mesti digarap bersama. Poin utamanya? SDM operator daerah. Mereka ini ujung tombak pemutakhiran data. “Mari sekali lagi kita mulai dengan menyajikan data yang benar melalui proses pemutakhiran yang terus-menerus,” tegas Gus Ipul. “Ini diawali dengan meningkatkan kemampuan operator di tingkat desa.”
Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga tak kalah penting. Masyarakat perlu diimbau agar aktif melaporkan perubahan data, baik lewat jalur formal seperti RT/RW, maupun melalui kanal yang disediakan Kemensos misalnya aplikasi Cek Bansos.
Tak cuma itu. Gus Ipul juga mengajak Pemda membuka ruang sinergi yang lebih luas. “Kita harus menyadari, kalau program Kemensos dikombinasikan dengan program daerah, plus melibatkan filantropi dan swasta, hasilnya akan jauh lebih efektif,” paparnya.
Ia lantas menyoroti program Sekolah Rakyat. Ini harus didukung penuh. Sekolah Rakyat dirancang untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, dengan seleksi berdasarkan data DTSEN, bukan tes akademik atau koneksi. Sembari anak-anak mendapat pendidikan berkualitas, orang tuanya juga diberdayakan.
“Mari penyelenggaraan Sekolah Rakyat kita dukung sepenuhnya dan kita sukseskan,” tutup Gus Ipul. “Program ini dikhususkan bagi keluarga-keluarga yang benar-benar tidak mampu.”
Pertemuan itu pun berakhir. Sekarang, giliran daerah bergerak.
Artikel Terkait
Sapi Kurban Lepas dan Mengamuk di Minimarket Bogor, Kerugian Capai Rp3 Juta
Honda Resmi Luncurkan Mobil Listrik Super-One di Jepang, Punya Mode Boost Bertenaga 93 dk
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Serahkan Sapi Kurban ‘Si Loreng’ dan ‘Wirabumi’ ke Masjid Istiqlal
Prabowo Salat Idul Adha di Paris, Momen Kejutan bagi Mahasiswa dan Diaspora Indonesia