Demokrasi yang Diculik: Ketika Pemilu Hanya Jadi Panggung Pesta Elit

- Kamis, 08 Januari 2026 | 18:25 WIB
Demokrasi yang Diculik: Ketika Pemilu Hanya Jadi Panggung Pesta Elit

Pemimpin Busuk Lahir dari Pemilu Busuk

Pemimpin hebat katanya 'dilahirkan', bukan diciptakan. Omong kosong belaka. Coba lihat prosesnya. Kalau sang pemimpin lahir dari rahim pemilu yang sudah busuk penuh kecurangan terstruktur, dinasti politik tak tahu malu, plus intervensi kekuasaan yang telanjang ya hasilnya pasti sampah. Ini desain yang disengaja!

Di sisi lain, kita selalu dengar jargon tentang rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Tapi kenyataannya? Hak kita cuma direduksi jadi ritual lima tahun sekali: antre di TPS, coblos, pulang. Selesai. Setelah itu, kita cuma jadi penonton setia opera politik yang tak jelas ujungnya. Sementara itu, para elit bergulat berebut tahta di panggung mewah dibiayai dari pajak kita dan kita di bawah cuma bisa ngomel di medsos atau diam seribu bahasa.

Ambil contoh para 'wakil rakyat' yang duduk nyaman di kursi empuk DPR. Gajinya fantastis, dari kantong kita semua. Tapi prakteknya? Mereka malah jadi budak setia oligarki dan korporasi rakus.

Mulut mereka memang lantang bicara amanah: kedaulatan rakyat, keadilan sosial. Namun begitu, kebijakan yang mereka lahirkan justru jadi karpet merah untuk bohir partai dan konglomerat hitam. Hukum jadi tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Infrastruktur megah dibangun, lebih untuk pencitraan. Sementara rakyat kecil makin terdesak: harga sembako melambung, pajak membengkak, lapangan kerja menghilang.


Halaman:

Komentar