Inilah bukti brutalnya. Pemimpin busuk itu lahir dari sistem busuk yang sengaja dipelihara untuk mem-busuk-kan rakyatnya. Rakyat dibuat bodoh, atau masa bodoh, apatis kronis. Bergantung pada bansos sesaat agar mudah digembala. Pemilu kita bukan lagi pesta demokrasi, tapi pesta pora elit. Parpol jadi pemegang saham, oligarki investor, KPU cuma EO bayaran. Lalu rakyat? Cuma budak yang dipaksa menelan 'produk' politik busuk tanpa pilihan lain.
Jadi, demokrasi perwakilan kita ini sudah lama diculik. Yang berkuasa bukan suara mayoritas, tapi duit haram, koneksi kotor, dan deal-deal gelap di balik pintu tertutup. Hasilnya ya pemimpin sampah. Dan dia akan melanggengkan kebusukan itu: korupsi sistemik, buzzer bayaran, polarisasi yang memecah belah, ketimpangan yang makin menganga seperti jurang. Kedaulatan rakyat tinggal dongeng usang, cuma dikenang saat kampanye.
Maka, panggilan untuk 'bangun' harus digaungkan. Hancurkan politik uang. Lawan dinasti politik. Rebut kembali kekuasaan dari segelintir elit itu. Memang pahit, kenyataan ini. Tapi kalau tidak kita telan sekarang, kita semua yang akan tenggelam dalam kebusukan itu.
Malika Dwi Ana, Januari 2025
Artikel Terkait
Hunian Sementara dan Harapan Baru untuk Warga Bukit Tempurung
Trump Minta Damai di Suriah: AS Berhubungan Baik dengan Dua Kubu yang Bertikai
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kuasa Hukum Tantang Eggi Sudjana dan Kawan-Kawan Bersaksi di Sidang Ijazah Jokowi