Besok, Dewan Keamanan PBB bakal mengadakan pertemuan penting. Pertemuan ini digelar tak lain atas desakan keras dari Venezuela. Pemicunya adalah serangan Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Menurut laporan Reuters dan Anadolu Agency, Minggu lalu, Sekjen PBB Antonio Guterres sendiri menilai serangan AS itu sangat berbahaya. Pernyataannya langsung memberi bobot lebih pada situasi yang sudah panas ini.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, sudah lebih dulu meminta pertemuan mendesak. Dia tak ragu menyebut tindakan Washington sebagai sebuah agresi kriminal.
"Sebagai tanggapan atas agresi kriminal yang dilakukan oleh pemerintah AS terhadap negara kami, kami telah meminta pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB, badan yang bertanggung jawab untuk menegakkan hukum internasional," tegas Gil.
"Tidak ada serangan pengecut yang akan menang melawan kekuatan rakyat ini, yang akan muncul sebagai pemenang," tambahnya lagi, dengan nada penuh keyakinan.
Venezuela sendiri melaporkan bahwa serangan AS menyasar instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian. Mereka pun terpaksa menyatakan keadaan darurat nasional. Presiden AS Donald Trump sudah mengonfirmasi serangan 'skala besar' itu, sekaligus mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya berhasil diamankan.
Tak cuma Caracas, Kolombia juga ikut mendesak diadakannya pertemuan dewan yang beranggotakan 15 negara itu. Dukungan untuk langkah ini datang dari Rusia dan China. Ini bukan kali pertama Dewan Keamanan membahas ketegangan AS-Venezuela; mereka sudah dua kali bertemu pada Oktober dan Desember tahun lalu membahas isu yang sama.
Artikel Terkait
Empat Prajurit TNI Divonis Hari Ini dalam Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Trump Peringatkan Netanyahu: Israel Bisa Berjuang Sendirian Jika Perang dengan Iran Berlanjut
Ole Romeny Dinobatkan sebagai Pemain Terusung Usai Gol Tunggal Bawa Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik
Kebakaran Hanguskan Satu Dermaga dan Lima Speed Boat di Kayong Utara, Penyebab Masih Diselidiki