Rupanya, bukan cuma UEA yang diguyur. Beberapa negara tetangga di kawasan Teluk juga mengalami hal serupa. Di Arab Saudi dan Qatar, hujan deras bahkan memaksa pembatalan sejumlah pertandingan Piala Arab pada Kamis kemarin. Cukup merepotkan.
Memori tentang bencana banjir April tahun lalu masih segar. Saat itu, hujan dengan intensitas luar biasa mengguyur UEA. Jalanan berubah jadi sungai, rumah-rumah kebanjiran. Bandara Dubai, yang biasanya sibuk dengan lalu lalang penumpang, sempat lumpuh total. Korban jiwa pun berjatuhan; empat orang dilaporkan tewas, termasuk tiga pekerja asal Filipina dan seorang warga lokal.
Banyak yang menyalahkan sistem drainase yang kurang memadai. Tapi, ada faktor lain yang lebih besar. Sebuah studi dari World Weather Attribution (WWA) menyebutkan, pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil punya andil besar. Perubahan iklim itu "sangat mungkin" telah memperparah hujan ekstrem yang melanda UEA dan Oman tahun lalu.
Jadi, imbauan polisi kali ini bukan tanpa alasan. Mereka tampaknya tak ingin kejadian buruk terulang. Warga pun diminta untuk benar-benar mematuhi arahan dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Artikel Terkait
Beijing Bergerak di Ruang yang Ditinggalkan Washington
Email Epstein Ungkap Diskusi Rahasia Bill Gates Soal Simulasi Pandemi
Dunia Hari Ini: AS-India Sepakat Turunkan Tarif, Sementara Pakistan Berdarah
BNN Bongkar Ratusan Jaringan Narkoba, Sita Sabu 4 Ton dan Musnahkan Ratusan Ribu Batang Ganja