Panggung global sedang berubah. Sementara Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Trump, memilih untuk mundur dari berbagai lembaga internasional, Cina justru tampil dengan cara yang berbeda. Mereka aktif berkunjung, menjamu tamu, dan perlahan tapi pasti membidik posisi kepemimpinan di sejumlah bidang.
Ambil contoh Januari lalu. Di bulan yang sama ketika Washington mengumumkan penarikan diri dari puluhan organisasi multilateral, Beijing justru ramai. Para pemimpin dari Kanada, Finlandia, hingga Inggris datang bertandang.
“Tatanan internasional sedang berada di bawah tekanan besar,” ujar Presiden Xi Jinping kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pertemuan mereka akhir Januari.
Xi menyerukan upaya untuk “membangun dunia multipolar yang setara dan tertib.”
Pesan itu sebenarnya bukan hal baru. Tapi, dalam konteks sekarang, di mana Amerika Serikat semakin enggan terlibat, seruan Cina terdengar lebih keras dan lebih sering diulang. AS diketahui meninggalkan banyak inisiatif soal iklim, ketenagakerjaan, dan migrasi yang oleh Trump disebut sebagai agenda “woke” dan bertentangan dengan kepentingan nasional.
Nah, di sisi lain, Cina tetap bertahan. Mereka masih menjadi anggota di sebagian besar organisasi itu. Dan yang menarik, pengakuan global terhadap mereka tampaknya meningkat. Sebuah survei dari European Council on Foreign Relations menunjukkan, responden di 21 negara termasuk sepuluh anggota Uni Eropa memperkirakan pengaruh Cina akan terus menguat dalam sepuluh tahun ke depan.
“Dulu jarak kekuatan antara Cina dan AS jauh lebih jelas,” kata Claus Soong, analis dari Mercator Institute for China Studies (MERICS) di Berlin. “Sekarang semakin mendekat. AS masih yang terkuat, tapi Cina mengejar dengan cepat sekali.”
Merangkul Global South: Strategi Lama yang Tetap Relevan
Negara-negara berkembang dan ekonomi menengah sering disebut Global South memang sudah lama jadi sasaran diplomasi Cina. Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang diluncurkan 2013 adalah contoh paling nyata: program infrastruktur raksasa untuk memperluas jejak dari Asia hingga Amerika Latin.
“Seorang pemimpin butuh pengikut,” jelas Soong. Dukungan dari Global South, katanya, adalah “titik penentu” bagi Beijing saat berhadapan dengan tekanan dari Barat.
Data ekonomi awal tahun ini juga memberi angin segar bagi narasi Cina. Mereka melaporkan pertumbuhan 5% dan surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarah didorong terutama oleh ekspor ke pasar di luar AS, seperti Asia Tenggara. Tapi, strategi ini punya risiko. Beberapa tahun belakangan, proyek BRI skala besar dan berisiko tinggi mulai dikurangi, beralih ke investasi yang lebih kecil dan terfokus. Kekhawatiran soal utang dari negara mitra jadi salah satu alasannya.
“Ekonomi adalah pertanyaan kunci,” tandas Soong. “Seberapa berkelanjutan? Dan apa lagi yang bisa Cina tawarkan ke negara lain?”
Koordinasi Antar Rezim: Kekhawatiran Baru?
Hubungan dekat Cina dengan Rusia dan Korea Utara menimbulkan pertanyaan lain. Apa dampak dari kerja sama antar rezim otoriter ini di panggung global?
Parade militer di Beijing tahun lalu menjadi panggung penegasan. Xi Jinping berdiri bersama para pemimpin dari Moskow dan Pyongyang, menunjukkan keselarasan di bidang politik dan keamanan.
“Pemerintah Cina mencoba menilai apa yang bisa mereka peroleh dari masing-masing rezim,” kata Sabine Mokry, peneliti dari Institute for Peace Research and Security Policy Universitas Hamburg.
Hasilnya bisa dilihat, misalnya, di Majelis Umum PBB. Cina semakin sering sejalan dengan sekutunya dalam pemungutan suara, terutama terkait isu hak asasi manusia dan Ukraina. Namun begitu, Mokry menilai kemitraan ini lebih bersifat transaksional. Didorong oleh penentangan bersama terhadap AS, bukan karena kesamaan nilai.
“Kalau ada kesempatan untuk menunjukkan kesan kerja sama, ya akan dimanfaatkan,” ujarnya. “Tapi secara substansi, ketidakpercayaan mendalam masih ada.”
Benarkah Cina Ingin Gantikan Posisi AS?
Narasi yang Beijing usung jelas: mereka adalah kekuatan stabilisator yang bertanggung jawab, berbanding terbalik dengan “hegemoni” Amerika Serikat. Tapi, menurut para pengamat, ambisi utama Cina bukanlah mengganti tatanan dunia yang dipimpin AS dengan versi mereka sendiri.
Tujuannya lebih ke dalam: memastikan kelangsungan kekuasaan Partai Komunis Cina.
“Ini bukan ambisi menguasai dunia,” tegas Mokry. Semua harus dilihat dari sudut pandang kelangsungan rezim. Ia mengingatkan masa kepresidenan pertama Trump (2016-2020), saat AS juga menarik diri dari banyak organisasi. Saat itu, meski ada ekspektasi Cina akan mengisi kekosongan, Beijing sebagian besar memilih untuk tidak mengambil alih.
Pendapat Soong senada. Cina kecil kemungkinan memimpin semua lembaga yang ditinggalkan AS, kecuali jika hal itu benar-benar sejalan dengan kepentingan keamanan nasionalnya. Contohnya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana pengaruh Cina memastikan Taiwan tetap dikecualikan alasan yang berulang kali dikemukakan AS untuk menarik diri dari badan PBB itu.
Fokus Regional: Mendorong AS Keluar dari Asia
Jadi, kalau bukan mendominasi global, apa yang sebenarnya diinginkan Beijing? Analis melihat pola yang lebih jelas: mengurangi pengaruh Amerika Serikat di kawasan yang dianggap vital, khususnya Asia-Pasifik.
Beberapa bulan terakhir, aktivitas militer Cina di sekitar Taiwan dan Laut Cina Selatan meningkat. Ketegangan dengan Filipina soal klaim wilayah pun memanas.
“Beijing akan sangat senang jika mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan di Asia,” kata Mokry.
Tapi ia mengingatkan, kehadiran AS di kawasan itu masih sangat fundamental. “Tidak mudah untuk diubah,” tambahnya.
Jadi, pergeseran kekuatan global ini bukan soal pergantian pemimpin tunggal. Ini lebih seperti permainan strategis yang rumit, di mana Cina dengan hati-hati memilih medan tempurnya, sambil memastikan pondasi kekuasaan di dalam negeri tetap kokoh.
Artikel Terkait
Penembakan di Dekat Gedung Putih: Secret Service Lumpuhkan Terduga Pelaku, Seorang Anak Terluka
Kampus Diminta Bentuk Tim Ahli untuk Bantu Kepala Daerah Selesaikan Masalah Lokal
Iran Ancam Serang Pasukan AS Jika Masuki Selat Hormuz, Trump Umumkan Rencana Pengawalan Kapal
Teater Kabaret Anak Disabilitas Meriahkan Hardiknas di Lampung, Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Berkarya