Akibatnya jelas. Pendangkalan yang ekstrem ini membuat air mudah sekali meluap. Tak lama setelah longsor, banjir pun datang, merendam jalan raya dan menggenangi rumah-rumah di sepanjang jalur Sibolga-Tapanuli Tengah. Situasi ini memaksa banyak warga untuk meninggalkan rumah mereka.
Ratusan orang mencari aman. Mereka mengungsi ke Aula Gereja HKBP Sibolga Julu di Kelurahan Angin Nauli. Kekhawatiran akan banjir susulan atau longsor baru dari perbukitan membuat mereka bertahan di sana selama beberapa hari. Data dari BPBD Sibolga mencatat sekitar 700 warga pernah berlindung di tempat itu.
Namun begitu, suasana mulai berubah. Setelah hujan reda dan debit air tampak normal, sebagian warga memutuskan pulang. Mereka kembali untuk menghadapi kenyataan: membersihkan rumah dari sisa-sisa lumpur dan kerusakan.
"Mereka sekarang pulang dan mulai membersihkan rumah masing-masing," kata Sonia.
Di balik aktivitas pemulihan itu, ada harapan yang menggelayut. Warga seperti Sonia berharap ada upaya serius untuk menormalisasi aliran Sungai Aek Godang. Agar bencana yang sama tidak terulang lagi di kemudian hari.
Artikel Terkait
Jalan Salah Danasamsita Ambles, Wali Kota Bogor Tutup Akses Sementara
Misteri di Pinggir Tol: Pria Tewas di Dalam Mobil yang Masih Menyala
Genangan 1,7 Meter di Pejaten Timur, Warga: Nyelamatin Diri Aja, Bu
Presiden Tinubu Tersandung di Ankara, Juru Bicara: Hanya Insiden Singkat