Rahmat awalnya bicara soal perkebunan sawit yang merajalela di Sumatera. Hasil produksinya, katanya, nyatanya tak menyejahterakan warga setempat. Malah sebaliknya.
"Mereka sudah menikmati hasil puluhan tahun, menuai sawit di kawasan hutan. Sekarang hampir 2,3 juta penduduk merasakan dampak banjir, sementara mereka enak-enak tidur di Singapura. Kita tahu perusahaannya," ucap Rahmat dengan nada tinggi.
"Uangnya mereka keruk, masyarakat kini menikmati banjir. Jangan sampai mereka lihat kita menderita lalu tak dihukum," sambungnya.
Ia lalu menyebut data mentah: lebih dari 700 jiwa melayang di utara Pulau Sumatera. Bagi Rahmat, ini perkara serius. "Bapak Menteri, satu nyawa bagi kita sangat berharga. Sekarang hampir 765 meninggal, 650 belum ditemukan. Ini bencana besar. Bukan main-main."
Suasana rapat jelas memanas. Namun di luar ruangan, Raja Juli Antoni memilih bersikap lapang. Siap menerima apa pun keputusan nantinya.
Artikel Terkait
Pajero Ugal-ugalan Tabrak Pemotor, Berakhir di Pagar Mapolda Jambi
Pezeshkian Peringatkan AS: Serang Pemimpin Tertinggi Iran Berarti Perang Total
Tim SAR Bersiap Hadang Cuaca untuk Evakuasi Korban dan Serpihan Pesawat di Gunung Bulusaraung
Proyek Lomba Santri Picu Kebakaran Gudang Rp 200 Juta di Pesantren Bogor