Kadin Soroti Dampak Ekonomi Besar di Balik Program Makan Bergizi Gratis

- Jumat, 06 Maret 2026 | 15:15 WIB
Kadin Soroti Dampak Ekonomi Besar di Balik Program Makan Bergizi Gratis

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah ternyata tak cuma soal isi piring. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) melihat geliat ekonomi yang nyata bermunculan dari balik dapur-dapur program ini. Lapangan kerja baru terbuka, dan angkanya cukup signifikan.

Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, membeberkan bahwa dampak MBG menjalar ke mana-mana. Di satu sisi, tentu ada pemenuhan gizi buat masyarakat. Tapi di sisi lain, program ini memutar roda perekonomian lewat penyerapan tenaga kerja dan menggerakkan usaha di sepanjang rantai pasok pangan.

“Setiap SPPG bisa sampai 50 orang. Artinya kalau kita sampai kepada 1.000 SPPG bersama-sama, sekitar 50 ribu telah dikejar dan disasar untuk bekerja secara langsung,”

ujar Anindya dalam peresmian SPPG DKI Jakarta, Jumat lalu (6/3/2026).

Bayangkan saja, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur MBG itu melibatkan puluhan orang untuk menjalankannya. Itu baru tenaga kerjanya langsung.

Belum lagi soal produksinya. Menurut Anindya, setiap dapur bisa menghasilkan sekitar tiga ribu porsi makanan setiap hari. Kalau dapur yang beroperasi sudah seribu unit, ya angkanya mencapai tiga juta porsi. “Jadi ini suatu dampak yang jelas,” tegasnya.

Namun begitu, geliat ekonomi ini tak berhenti di situ. Anindya menambahkan, dunia perbankan pun mulai melirik. Keberadaan SPPG dinilai layak atau 'bankable' untuk mendapat suntikan dana. Ini jadi angin segar bagi keberlanjutan program.

Kadin sendiri mendorong anggotanya untuk turut serta. Dengan terlibat dalam rantai pasok, proses hilirisasi bisa lebih optimal. Efeknya berantai: bakal muncul pelanggan baru, sekaligus mendorong lahirnya usaha-usaha segar di sektor pangan.

Mulai dari peternak ayam dan telur, pemasok sayuran, hingga penyedia daging dan komoditas lain yang dibutuhkan. Semuanya mendapat ruang untuk tumbuh. Program yang awalnya bertujuan sosial, ternyata menyimpan potensi ekonomi yang cukup besar.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar