Trump Sebut Spanyol dan Inggris Pecundang Soal NATO dan Iran

- Jumat, 06 Maret 2026 | 15:15 WIB
Trump Sebut Spanyol dan Inggris Pecundang Soal NATO dan Iran

Donald Trump tak segan menyebut dua sekutu AS sebagai "pecundang". Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat itu melontarkan kritik pedas terhadap Spanyol dan Inggris. Bahkan, ia secara khusus menyasar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

"Kita punya banyak pemenang, tapi Spanyol itu pecundang, dan Inggris sangat mengecewakan," ujar Trump, seperti dilaporkan New York Post pada Jumat (6/3/2026).

Soal Spanyol, nada Trump terasa lebih keras. Dia menuduh negara itu "sangat bermusuhan" dengan NATO. Rupanya, ini berkaitan dengan komitmen keuangan.

"Mereka tidak membayar iuran mereka -- mereka satu-satunya yang memilih menentang pembayaran 5%, dan mereka sangat bermusuhan dengan semua orang," katanya lagi, merujuk pada target kontribusi pertahanan aliansi tersebut.

Lalu bagaimana dengan Inggris? Pertanyaan soal laporan Telegraph yang menyebut Trump juga mencap Starmer sebagai "pecundang" di percakapan pribadi pun mengemuka. Tanggapannya langsung dan tanpa basa-basi.

"Yah, dia bukan Winston Churchill, izinkan saya mengatakannya seperti itu," jawab Trump.

Dia menuduh Starmer telah merusak hubungan internasional. Sumber kekesalan Trump, menurut laporan, adalah penolakan Starmer untuk mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer Inggris dalam kampanye bombardir bersama Israel terhadap Iran. Trump tampaknya frustrasi dengan sikap itu.

Di sisi lain, sehari sebelumnya, Starmer sudah membela keputusannya. Pada Kamis (5/3), ia menegaskan bahwa Inggris tidak akan bergabung dengan serangan AS-Israel.

Menurutnya, jalan terbaik justru adalah solusi diplomatik. "Penyelesaian yang dinegosiasikan dengan Iran, di mana mereka menghentikan ambisi nuklir mereka," begitu kira-kira argumen sang Perdana Menteri.

Jadi, ada dua kubu dengan pendekatan yang berbeda tajam. Trump yang ofensif, dan Starmer yang memilih jalur perundingan. Ketegangan antar sekutu ini jelas menambah warna rumit di panggung geopolitik saat ini.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar