Permintaan Maaf Perdana Menteri Anutin di Tengah Duka Banjir Thailand Selatan

- Senin, 01 Desember 2025 | 18:15 WIB
Permintaan Maaf Perdana Menteri Anutin di Tengah Duka Banjir Thailand Selatan

Banjir besar di Thailand selatan telah memakan korban jiwa yang tragis. Setidaknya 170 orang tewas, dan lebih dari seratus lainnya terluka. Angka ini masih bisa bertambah.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat yang dikutip media lokal, delapan korban jiwa baru dilaporkan dalam hitungan hari. Bencana ini benar-benar meluas, menjangkau 12 provinsi. Dampaknya dirasakan oleh jutaan orang kira-kira 3,8 juta penduduk dari 1,4 juta lebih rumah tangga harus menghadapi air yang menggenangi kehidupan mereka.

Di sisi lain, sorotan paling suram ada di Provinsi Songkhla. Di sana saja, korban meninggal mencapai 131 orang. Kota Hat Yai, yang menjadi pusat ekonomi wilayah itu, mengalami pukulan terberat.

Bahkan, sebuah catatan mengejutkan muncul: pada suatu hari Jumat pekan lalu, hujan yang turun di Hat Yai mencapai 335 mm. Banyak yang menyebut itu adalah curah hujan harian tertinggi dalam tiga abad terakhir. Alam seolah mengingatkan kekuatannya.

Pemerintah pun bergerak. Bantuan logistik terus dikirim, proses pembersihan puing dan lumpur berjalan, meski lambat. Bantuan finansial juga digelontorkan. Keluarga yang kehilangan anggota bisa mendapat kompensasi hingga 2 juta Baht. Ada juga skema penangguhan utang dan pinjaman tanpa bunga untuk usaha kecil dan perbaikan rumah.

Namun begitu, upaya itu tampaknya belum cukup meredam amarah dan kekecewaan publik. Skala bencana yang begitu besar dan jumlah korban yang tinggi memicu gelombang kritik tajam. Dua pejabat lokal bahkan sudah dinonaktifkan karena diduga gagal menangani krisis.

Merespon tekanan itu, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul turun langsung. Ia mengunjungi wilayah terdampak, termasuk Hat Yai, pada akhir pekan. Di sana, ia tak bisa menyembunyikan fakta bahwa negara memang punya banyak kekurangan dalam penanganan banjir ini.

Ia berjanji akan ada perbaikan sistem.

Yang lebih penting, Anutin secara terbuka meminta maaf.

"Saya minta maaf karena pemerintah tidak mampu mengurus dan melindungi masyarakat dengan baik," ujarnya.

Permintaan maaf itu kini menggantung, berbaur dengan kesedihan ribuan keluarga dan tugas berat pemulihan yang masih panjang. Bencana mungkin akan surut, tetapi pertanyaan tentang kesiapan dan respons negara akan tetap mengalir, seperti air yang baru saja mereka alami.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar