Harga minyak sawit Malaysia kembali melemah di akhir pekan kemarin. Ini sekaligus menjadi catatan mingguan kedua yang suram, dihantam tekanan dari berbagai sisi. Kontrak berjangka CPO turun 1% ke level 4.450 ringgit per ton pada Jumat (17/4). Secara keseluruhan, pekan ini harganya terkikis hampir 2%.
Penyebabnya beragam. Dari luar, harga minyak kedelai di Chicago yang turun memberi tekanan. Tapi masalah utamanya mungkin dari dalam: permintaan yang masih lesu. Data dari surveyor kargo sungguh mengejutkan. Pengiriman pada paruh pertama April anjlok lebih dari sepertiga dibanding bulan sebelumnya. Tampaknya permintaan musiman belum benar-benar bangkit.
Namun begitu, tekanan terberat justru datang dari pasar energi global. Sentimen negatif menyebar setelah harga minyak dunia terjun bebas di hari yang sama. Pemicunya? Ketegangan di Timur Tengah yang dianggap mereda dan dibukanya kembali Selat Hormuz untuk sementara. Situasi ini langsung berdampak. Melemahnya harga minyak mentah membuat CPO jadi kurang menarik untuk diolah menjadi biodiesel.
Sebagai gambaran, penurunan harga minyak global pekan lalu cukup tajam. Minyak Brent jatuh 9% ke angka 90,38 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) malah lebih parah, merosot lebih dari 11% ke posisi 83,85 dolar. Kedua patokan ini bahkan mencatat penutupan terendah sejak pertengahan Maret lalu.
Meski diterpa badai, pelemahan harga CPO ternyata tidak terlalu dalam. Ada beberapa faktor yang menahan laju jatuhnya. Nilai tukar ringgit yang melemah terhadap dolar memberi sedikit napas. Begitu juga dengan penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian, China, yang membantu menopang sentimen.
Dari sisi permintaan, sebenarnya ada secercah harapan. India, konsumen terbesar dunia, diperkirakan akan meningkatkan pembeliannya. Ini wajar, setelah impor mereka pada Maret lalu menyusut 19% ke level terendah dalam tiga bulan. Biasanya, stok yang menipis akan diikuti oleh pembelian baru.
Faktor pasokan juga masih bisa diandalkan. Persediaan CPO dilaporkan terus menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut, mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Kelangkaan stok biasanya jadi penahan harga.
Di sisi lain, ada proyeksi yang cukup optimis dari dalam negeri Malaysia. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memproyeksikan konsumsi biodiesel berbasis sawit di negara itu akan naik lebih dari 300 ribu ton per tahun. Ini seiring dengan langkah pemerintah memperluas mandat pencampuran bahan bakar. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Perkembangan terbaru justru datang dari Timur Tengah lagi dan berpotensi mengacaukan semua prediksi. Menurut sejumlah laporan, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4). Padahal, jalur vital itu baru dibuka beberapa jam sebelumnya untuk lalu lintas non-militer.
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memberikan pernyataan resmi. Mereka menyatakan selat itu akan tetap di bawah kendali militer ketat. Kebijakan ini baru akan berubah jika kebebasan pelayaran penuh untuk kapal-kapal Iran dipulihkan.
Keputusan ini, kata mereka, diambil karena Washington belum juga mencabut blokade lautnya. Amerika Serikat juga dituding masih melanjutkan apa yang disebut Iran sebagai "tindakan pembajakan" di laut. Situasi yang kembali memanas ini tentu akan diawasi ketat oleh para pelaku pasar komoditas minggu ini.
Artikel Terkait
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026