Jakarta – Persiapan keamanan ketat sudah terlihat di Islamabad. Tapi, di tengah hiruk-pikuk itu, satu hal masih menggantung: Iran sendiri belum mengiyakan. Meski begitu, Amerika Serikat sudah mengirimkan tim negosiasinya. Mereka dijadwalkan tiba di Pakistan hari Senin (20/4/2026) untuk kembali duduk berunding dengan Teheran.
Tujuannya jelas, tapi sulit: menyelamatkan gencatan senjata yang rapuh itu. Waktunya hampir habis.
Delegasi AS kali ini lagi-lagi dipimpin Wakil Presiden JD Vance. Dia bukan wajah baru untuk urusan ini. Pertemuan langsung bersejarah antara AS dan Iran beberapa waktu lalu, yang berlangsung marathon selama 21 jam, juga dia yang pimpin. Dalam perjalanan ke Islamabad, Vance akan ditemani dua utusan senior: Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Jalur Diplomasi Terbuka, Tapi Jurang Masih Dalam
Di sisi lain, dari Teheran, sinyalnya campur aduk. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Qalibaf, bilang negaranya tetap memilih jalur diplomasi. "Kami masih di jalur dialog," katanya. Namun begitu, ia tak menutup-nutupi kenyataan pahit bahwa perbedaan antara kedua pihak masih sangat lebar. Bahkan, bisa dibilang tajam.
Masalahnya numpuk. Dari program nuklir Iran, dukungannya pada kelompok-kelompok proksi di kawasan, hingga soal yang paling panas sekarang: kontrol atas Selat Hormuz.
Selat vital itu praktis lumpuh. Blokade dan baku tembak membuat situasi memanas dengan cepat. Iran bersikukuh dengan kebijakannya. "Tidak mungkin pihak lain bisa melintas jika kami sendiri tidak bisa," tegas Qalibaf dengan nada keras. Ratusan kapal kini mengantre di kedua ujung selat, seperti truk-truk raksasa yang macet di jalan tol. Padahal, ini adalah jalur nadi perdagangan global sekitar 20% minyak dunia, plus gas, pupuk, dan bantuan kemanusiaan, biasa mengalir lewat sini.
Ketegangan makin menjadi setelah Iran menembaki sebuah kapal dagang berbendera India. New Delhi pun protes keras. Suasana jadi makin runyam.
Ancaman Trump dan Bayangan Perang Terbuka
Lalu, ada ancaman keras dari mantan Presiden AS Donald Trump. Pernyataannya blak-blakan: AS akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika mereka menolak kesepakatan. Ancaman itu langsung memicu gelombang kritik. Banyak yang khawatir ini bukan cuma omong kosong, tapi bisa memicu pelanggaran hukum internasional dan yang paling menakutkan eskalasi jadi perang terbuka.
Iran sendiri melihat blokade AS sebagai bentuk agresi yang justru memperkeruh keadaan. Konflik yang sudah berjalan delapan pekan ini korban berjatuhan. Angkanya mengerikan: lebih dari 3.000 orang tewas di Iran, di Lebanon korban mencapai 2.290, belum lagi puluhan korban di Israel dan negara-negara Teluk lainnya.
Dengan kondisi seperti ini, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bersikeras akan tetap memegang kendali penuh atas lalu lintas di Selat Hormuz. Sampai konflik benar-benar berakhir. Mereka mengatur semuanya: rute kapal, biaya transit, sampai urusan sertifikasi khusus. Jalur perdagangan dunia, untuk sekarang, ada di genggaman mereka.
Artikel Terkait
Banjir Bandang di Kendal, Truk Pengangkut Batu Terseret Arus Kali Bodri
Persik Kediri Siap Tempur Hadapi PSM Makassar demi Jauh dari Zona Degradasi
Disnakerin Madiun Sidak Pabrik Plastik di Wonosari, Terindikasi Lagi Tahan Ijazah Karyawan
ART di Maros Curi Perhiasan dan Uang Majikan, Kabur ke Makassar