Hampir 400 orang masih dinyatakan hilang. Angka itu diumumkan oleh Pusat Penanggulangan Bencana (DMC) pada Minggu lalu, dan situasinya belum membaik. Hujan deras dari Siklon Ditwah, kata mereka, masih akan mengguyur negara kepulauan itu dalam beberapa hari ke depan. Ini benar-benar situasi yang suram.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, terpaksa mengambil langkah tegas. Ia resmi mengumumkan status keadaan darurat nasional. Tujuannya jelas: untuk mengkoordinasi upaya penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang sudah merenggut nyawa sedikitnya 334 jiwa.
"Kita menghadapi bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah kita," ucap Dissanayake dalam pidatonya.
Suaranya tegas, mencoba memberi harapan di tengah kepiluan. "Tentu saja, kita akan membangun bangsa yang lebih baik dari sebelumnya," imbuhnya.
Gambaran kerusakannya sangat luas. Menurut data DMC, sistem cuaca ekstrem itu telah meluluhlantakkan hampir 15.000 rumah. Akibatnya, sekitar 44.000 orang terpaksa mengungsi, berlindung di tempat-tempat penampungan darurat yang disiapkan pemerintah. Upaya penyelamatan masih berjalan dengan susah payah. Lebih dari 24.000 personel dari gabungan polisi, tentara, dan angkatan udara dikerahkan. Mereka berjuang menjangkau keluarga-keluarga yang masih terisolasi dan terlantar.
Kalau kita melihat ke belakang, kerugian dan kehancuran kali ini adalah yang terparah sejak tsunami Asia 2004 lalu. Saat itu, gelombang raksasa menewaskan sekitar 31.000 orang dan membuat lebih dari satu juta warga kehilangan tempat tinggal. Skala tragedi sekarang mungkin berbeda, tapi dampak psikologisnya terasa sama menghantam.
Di sisi lain, pemerintah Sri Lanka sudah membuka pintu untuk bantuan internasional. Mereka juga memaksimalkan sumber daya yang ada, termasuk menggunakan helikopter militer untuk menjangkau korban yang terdampar. Namun begitu, tantangan di lapangan ternyata lebih berat dari perkiraan.
Menurut sejumlah saksi dan pejabat di lapangan, tingkat kerusakan yang sebenarnya terutama di wilayah tengah yang paling parah baru mulai terlihat jelas saat petugas bantuan mulai membuka jalan. Mereka harus membersihkan rintangan demi rintangan, dari pohon-pohon tumbang hingga timbunan tanah longsor, untuk bisa masuk. Perlahan, gambaran keseluruhan bencana yang sesungguhnya mulai terungkap.
Artikel Terkait
Satpol PP Gerebek Pesta Miras di Indekos Metro, 7 Remaja Putri Diamankan
Houthi Siaga Penuh dan Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb
Jibom Brimob Sterilisasi GBK untuk Keamanan Womens Day Run
Tim SAR Natuna Uji Repeater di Puncak Gunung Ranai untuk Pastikan Sistem Komunikasi Darurat