Krisis Sudan Lebih Parah dari Gaza? Ustaz Bachtiar Nasir Beberkan Fakta Mengerikan

- Selasa, 04 November 2025 | 15:50 WIB
Krisis Sudan Lebih Parah dari Gaza? Ustaz Bachtiar Nasir Beberkan Fakta Mengerikan
Krisis Kemanusiaan Sudan: Lebih Parah dari Gaza Menurut Ustaz Bachtiar Nasir

Krisis Sudan Lebih Parah dari Gaza, Ustaz Bachtiar Nasir Beberkan Fakta Mengerikan

Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), mengungkapkan krisis kemanusiaan di Sudan telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, situasi di Sudan bahkan lebih parah dan lebih dahsyat dibandingkan dengan tragedi yang terjadi di Gaza, Palestina.

Korban Jiwa di Sudan Melampaui Gaza

Ustaz Bachtiar Nasir menyampaikan perbandingan yang mengejutkan. "Apa yang terjadi di Sudan ini lebih dahsyat dari Gaza. Di Gaza yang terbunuh hingga hari ini sekitar 70 ribu orang. Di Sudan, hanya dalam beberapa hari, sudah 150 ribu pembantaian," ujarnya dalam Kuliah Semangat Pagi di kanal YouTube Bachtiar Nasir.

Konflik di Sudan merupakan perang saudara antara dua faksi militer utama, yaitu Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Yang membuat situasi semakin tragis, sebagian besar korban adalah warga sipil tak bersenjata yang tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri.

Kondisi Darurat dan Pusat Konflik di Darfur

UBN menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan di Sudan. "Pembunuhan kejam terjadi, rakyat sipil ditembaki. Fasilitas kesehatan lebih dari 80 persen tidak berfungsi. Ini lebih parah dari Gaza. Konflik terkini terpusat di Darfur," ungkapnya.

Secara khusus, ia menjelaskan peta kekuatan di wilayah Darfur. RSF saat ini menguasai hampir seluruh wilayah Darfur, termasuk kota El Fasher yang baru saja direbut. Sementara itu, SAF mengendalikan wilayah utara dan timur, termasuk Port Sudan dan Laut Merah dengan dukungan kekuatan asing.

Konflik Sudan Sebagai Proxy War Internasional

Ustaz Bachtiar Nasir menilai konflik Sudan telah berkembang menjadi proxy war atau perang perpanjangan tangan kepentingan asing di kawasan Tanduk Afrika dan Laut Merah. "Yang berkepentingan sudah orang luar. Ada intervensi negara-negara yang memiliki kepentingan strategis, baik ekonomi maupun ideologi. Inilah yang memperpanjang konflik," jelasnya.

Menurut analisanya, akar masalah konflik Sudan berawal dari ketidakstabilan politik, kudeta militer, serta perselisihan etnis dan ekonomi yang tidak kunjung menemukan penyelesaian.

Pelajaran untuk Indonesia dan Seruan Kemanusiaan

UBN memberikan peringatan keras yang relevan dengan kondisi Indonesia. "Semoga Indonesia bisa belajar dari kesalahan ini. Inilah bahayanya kalau syahwat hawa nafsu memegang senjata dan memimpin negara. Akibatnya, rakyat yang menjadi korban," tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Ustaz Bachtiar Nasir menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi umat Islam. "Sayangilah yang di bumi, maka kamu akan disayangi yang di langit. Begitulah seharusnya seorang muslim, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri," ujarnya menutup pembahasan mengenai krisis kemanusiaan Sudan ini.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar