Kisah Perjuangan Penumpang KRL Green Line
Bagi banyak komuter, kondisi ini adalah konsekuensi yang harus diterima untuk bisa tiba tepat waktu di tempat kerja atau kuliah. Suprapto (53), seorang penumpang yang ditemui di Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan, mengaku telah terbiasa dengan situasi ini. Setiap hari ia berangkat dari Pamulang ke kantornya di Tanjung Priok dengan menggunakan KRL.
"Saya naik kereta arah Tanah Abang, lalu ganti kereta ke sana. Enggak ada alternatif, kereta satu-satunya transportasi," ujarnya. Meski menjadi andalan, perjalanan ini adalah ujian kesabaran baginya. "Penuh banget, enggak nyaman. Enggak aman juga," keluhnya. Suprapto bahkan kadang memilih naik dari Stasiun Rawa Buntu yang lebih awal untuk mendapatkan posisi yang lebih aman di dalam gerbong.
Kisah serupa datang dari Berlian (20), seorang mahasiswa asal Bintaro. Ia menggunakan KRL Green Line setidaknya dua kali seminggu untuk ke kampusnya di Jakarta Barat. "Capek banget sih, barengan orang pergi dan pulang kerja. Harus desak-desakan," tuturnya di Stasiun Pondok Ranji. Pagi ini, ia bahkan sempat tertinggal kereta karena gerbong sudah terlalu penuh. "Kadang nunggu kereta selanjutnya, tapi kalau udah telat, maksa masuk juga," tambahnya, menggambarkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi.
Laporan ini menggambarkan betapa krusialnya perbaikan dan penambahan layanan KRL Commuter Line, khususnya di jalur Green Line Rangkasbitung-Tanah Abang, untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan para penumpang setianya.
Artikel Terkait
Personel BPBD Makassar Tewas Ditabrak Truk Tronton di Tallo
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1