Survei Mengejutkan: 70% Warga Palestina Tolak Pelucutan Senjata Hamas, Mayoritas Juga Tak Percaya Rencana Damai Trump

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 14:40 WIB
Survei Mengejutkan: 70% Warga Palestina Tolak Pelucutan Senjata Hamas, Mayoritas Juga Tak Percaya Rencana Damai Trump

Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkap fakta mengejutkan: mayoritas warga Palestina menolak pelucutan senjata Hamas dan skeptis terhadap rencana perdamaian Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di Gaza.

Hasil Utama Survei Opini Publik Palestina

  • 70% warga Palestina menentang pelucutan senjata Hamas meski risiko serangan Israel berulang
  • 62% meragukan rencana perdamaian Trump dapat mengakhiri perang di Gaza
  • 85% menginginkan pengunduran diri Presiden Mahmoud Abbas
  • Hamas lebih populer daripada Fatah di Gaza dan Tepi Barat

Menurut Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina (PCPSR), survei yang dilakukan 22-25 Oktober terhadap 1.200 responden menunjukkan penolakan pelucutan senjata Hamas paling tinggi di Tepi Barat (80%), sementara di Gaza 55% menentang.

Skeptisisme terhadap proposal perdamaian Trump juga meluas, dengan 62% warga Palestina tidak yakin inisiatif tersebut akan mengakhiri perang secara permanen. Ketidakpercayaan tertinggi di Tepi Barat (67%) dan lebih rendah di Gaza (54%).

Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Palestina tercermin dari 85% responden yang menginginkan Presiden Mahmoud Abbas mundur, dengan hanya 23% yang puas dengan kinerjanya.

Popularitas Hamas terus menguat dengan dukungan 35% dibanding Fatah 24%. Dukungan untuk Hamas lebih tinggi di Gaza (41%) daripada Tepi Barat (32%).

Mengenai usulan Trump membentuk komite teknokrat Palestina untuk memerintah Gaza, 53% menentang sementara 45% mendukung. Dukungan meningkat menjadi 67% ketika komite tersebut akan mengawasi rekonstruksi.

Sikap terhadap pasukan penjaga perdamaian Arab/Muslim menunjukkan 78% penolakan di Tepi Barat dan 52% di Gaza. Namun dukungan meningkat ketika pasukan penjaga perdamaian bertugas mengamankan perbatasan Gaza tanpa melucuti Hamas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar