Sejarah Transmigrasi dari Masa Kolonial
Keberadaan masyarakat Jawa di Wonomulyo bermula dari program kolonisasi Pemerintah Hindia Belanda tahun 1934. Saat itu, wilayah ini masih berupa hutan belantara yang kemudian dibuka menjadi permukiman dan lahan garapan oleh para transmigran dari Jawa.
Program kolonisasi awalnya digagas Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz tahun 1905 untuk mengurangi kepadatan penduduk dan kemiskinan di Pulau Jawa. Setelah uji coba di Lampung (1905-1911), program diperluas ke Sumatera Utara dan Selatan sebelum akhirnya mencapai Sulawesi.
Pada 1 September 1937, wilayah ini resmi bernama District Wonomoeljo dan berstatus kecamatan sejak 19 Desember 1961.
Perkembangan Transmigrasi di Indonesia
Istilah "kolonisasi" diubah menjadi "transmigrasi" oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta tahun 1950, meski istilah ini sudah digunakan Soekarno sejak 1927. Program transmigrasi nasional mulai digalakkan tahun 1950 dan mencapai puncaknya di era Orde Baru (1966-1998) dengan pemindahan jutaan orang Jawa ke luar Jawa.
Di era Reformasi dan Otonomi Daerah, program transmigrasi mengalami perubahan fundamental. Fokus bergeser dari pemindahan massal ke pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi yang sudah ada. Pendekatan modern sekarang lebih berkelanjutan dan fokus pada pengembangan kawasan ekonomi, penanggulangan kemiskinan, dan penguatan ketahanan pangan.
Kecamatan Wonomulyo menjadi bukti nyata keberhasilan program transmigrasi yang tidak hanya memindahkan penduduk, tetapi juga menciptakan harmoni budaya antara pendatang dan masyarakat lokal, sekaligus berkontribusi pada pembangunan daerah.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi