Jakarta – Di tengah berbagai tekanan global, Indonesia tegaskan lagi komitmennya untuk berdiri bersama Kuba. Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, menyuarakan hal itu usai bertemu dengan Duta Besar Kuba di Senayan, Senin (20/4/2026).
Bagi Indonesia, Kuba bukan sekadar mitra diplomatik biasa. Hubungan keduanya punya akar sejarah yang dalam. Karena itu, solidaritas yang dibangun harus lebih dari sekadar kata-kata, tapi diwujudkan dalam kerja sama yang riil dan saling menguntungkan.
“Kita menempatkan Kuba sebagai sahabat. Solidaritas Indonesia untuk Kuba harus terus dijaga sebagai komitmen bersama,” tegas Utut.
Dia lalu mengingatkan satu fakta yang sering terlupa. Kedekatan ini punya bukti nyata. Saat Indonesia dilanda musibah besar seperti tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006, Kuba mengirimkan tenaga medisnya untuk membantu. Itu adalah bentuk solidaritas yang tak terlupakan.
Pertemuan kemarin juga jadi ajang menyerap aspirasi. Utut dan jajarannya mendengarkan langsung kondisi terkini yang dihadapi Kuba. Dari situ, terlihat beberapa peluang kerja sama yang masih mengambang dan perlu segera digarap.
Misalnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Ada pembicaraan serius dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Di sektor kesehatan, fokusnya pada penanganan penyakit jantung dan kanker. Kerja sama teknis seperti ini yang diharapkan bisa segera berjalan.
Tak cuma di tingkat pusat. Rupanya ada juga rencana untuk menjalin hubungan antar daerah. Wacana sister city antara Artemisa dan Bandung, serta sister province antara Artemisa dan Jawa Barat, sedang digodok. Ini bisa jadi pintu masuk kerja sama yang lebih personal dan langsung menyentuh masyarakat.
Peran Parlemen: Dorong dan Jembatani
Lantas, apa peran DPR dalam semua ini? Utut menjelaskan dengan gamblang. Tugas parlemen adalah mendorong dan menjembatani komunikasi. Soal eksekusi dan implementasi, wewenangnya ada di pemerintah.
“Parlemen mendorong dan menjembatani. Tindak lanjutnya tentu berada di pemerintah, tetapi kita pastikan komunikasi dan komitmen ini terus berjalan,” jelasnya.
Pendekatan ini, menurutnya, sejalan dengan prinsip politik luar negeri kita yang bebas aktif. Bukan ikut campur, tapi memastikan hubungan baik dengan sahabat seperti Kuba tetap hidup dan produktif.
Pertemuan ini, meski terlihat rutin, punya arti penting. Ia bukan sekadar formalitas. Di baliknya ada upaya nyata memperkuat pondasi lama dan membuka jendela peluang baru untuk Indonesia dan Kuba ke depannya.
Artikel Terkait
Claro Makassar Run 2026 Digelar 28 Juni, Hadirkan Dua Kategori Baru 5K dan 10K
Pelajar Tewas Jatuh dari Tebing Apparalang Bulukumba Saat Berfoto
Polisi Bekuk Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Janda di Jeneponto yang Buron Lebih Setahun
Mantan Pejabat CIA Didakwa Curi Emas Rp640 Miliar, Akademisi Soroti Pentingnya Pengawasan Intelijen