SulawesiPos.com – Ketegangan Iran dan Amerika Serikat memanas lagi. Kali ini, cukup tajam.
Rencana perundingan baru di Islamabad, yang baru saja diumumkan Washington, tampaknya sudah mentah di awal. Teheran dilaporkan tak punya niatan untuk hadir. Keputusan ini muncul cuma selang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump dengan gegap gempita mengabarkan akan mengirim delegasi negosiasi ke Pakistan.
Media pemerintah Iran, seperti dilansir IRNA, dengan tegas menyatakan negaranya "saat ini tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi". Mereka bilang, langkah ini diambil karena AS dianggap telah melanggar gencatan senjata yang memang masih rapuh. Intinya, suasana sudah tidak kondusif untuk duduk bersama.
Insiden di Selat Hormuz Jadi Pemicu
Penyulutnya? Sebuah insiden di laut. Trump mengklaim pihaknya berhasil menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade di Selat Hormuz.
“Kami sepenuhnya menguasai kapal mereka, dan sedang memeriksa isinya!”
Begitu kicauannya di media sosial, penuh semangat.
Militer Iran tak membantah. Mereka membenarkan insiden itu, meski menyebut kapal tersebut berasal dari Tiongkok. Tindakan AS mereka kecam keras sebagai "pembajakan bersenjata" dan ancaman pembalasan pun dilayangkan. Insiden kecil di laut itu langsung menebar kekhawatiran: jangan-jangan gencatan senjata bakal runtuh sebelum negosiasi sempat dimulai ulang.
Padahal sebelumnya, AS sudah menyiapkan tim. Rencananya, delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, bersama Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan terbang untuk melanjutkan pembicaraan damai. Tapi niat itu kini seperti menabrak tembok. Iran menilai sikap Washington penuh tuntutan yang berlebihan dan tidak konsisten. Blokade laut itu sendiri, bagi mereka, adalah pelanggaran nyata.
Dan situasi makin ruwet. Iran kembali memberlakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz jalur vital untuk perdagangan minyak dunia. Efeknya langsung terasa: harga energi melonjak dan ketidakpastian ekonomi global meningkat. Konflik yang sudah berjalan delapan pekan ini juga telah memakan korban yang tidak sedikit, ribuan jiwa di Iran dan Lebanon dikabarkan menjadi tumbal.
Ancaman dan Komitmen yang Berdampingan
Di tengah suasana panas, ada pula pernyataan yang mencoba meredam. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan komitmen negaranya pada jalur diplomasi.
“Tidak akan ada kemunduran dalam diplomasi,”
katanya, meski diakui perbedaan antara kedua pihak masih sangat lebar.
Di sisi lain, Trump justru mengeluarkan kata-kata yang lebih keras. Ia menyebut perundingan di Islamabad sebagai "kesempatan terakhir" sebelum gencatan senjata berakhir.
“Jika Iran tidak menandatangani kesepakatan ini, seluruh negara itu bisa hancur,”
katanya dalam sebuah wawancara.
Tak cuma itu. Ia menegaskan kesiapan AS untuk menghancurkan infrastruktur vital Iran pembangkit listrik, jembatan, dan lain-lain jika kesepakatan ditolak. Ancaman itu menggantung, membuat suasana jadi semakin tidak menentu. Sepertinya, jalan menuju meja perundingan masih sangat panjang dan terjal.
Artikel Terkait
Kebakaran Landa Gedung Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri
Hendra Setiawan Resmi Jabat Pelatih Tim Thomas Indonesia
Anggota DPR Kritik Sistem Pengawasan BPOM, Sebut Masih Banyak Celah
Delegasi AS Tiba di Islamabad untuk Selamatkan Gencatan Senjata dengan Iran