Persebaya dan Tekanan di Kursi Panas Bernardo Tavares
HARIAN, SURABAYA – Udara di sekitar markas Persebaya mulai terasa berbeda. Bukan aroma rumput lapangan, melainkan aroma tekanan yang kian pekat. Bernardo Tavares, sang juru taktik asal Portugal yang diharapkan jadi penentu arah baru, kini justru duduk di kursi yang panas. Sorotan terhadapnya semakin tajam, dan alasannya jelas: hasil.
Statistik bicara dengan nada keras. Cuma satu kemenangan yang berhasil direngkuh Bajul Ijo dari lima laga terakhir. Performa semacam ini, apalagi di bulan krusial seperti April 2026, jelas memantik perdebatan. Di kalangan Bonek Mania, pertanyaan yang berputar-putar: masih pantaskah Tavares dipercaya, atau sudah waktunya alarm peringatan dibunyikan?
Angka-Angka yang Bikin Gelisah
Satu dari lima. Bagi tim sekaliber Persebaya, catatan itu jauh dari kata ideal. Yang lebih mengkhawatirkan, masalahnya terlihat jelas di lapangan. Lini depan kerap mandul, sementara pertahanan tampak goyah dan mudah dibongkar lawan.
Kemenangan tunggal itu terasa seperti keberuntungan semata, tertelan oleh hasil imbang dan kekalahan yang terus beruntun. Ciri khas serangan balik cepat ala Tavares, yang dulu mematikan, kini seolah kehilangan elemen kejutannya. Rival-rival sudah membaca polanya, membuat Persebaya kerap bingung menghadapi tim yang memilih bertahan rapat.
Suara-Suara dari Tribun dan Warung Kopi
Di sisi lain, suporter setia Persebaya terbelah. Ada yang masih sabar, berargumen bahwa membangun tim butuh proses dan Tavares perlu waktu. Tapi, kegelisahan juga mulai mengeras jadi kritik terbuka di linimasa media sosial.
"Mosok pelatih bedo gaya, permainan podo ae. Sopo seng salah rekk," tulis seorang fans dengan nada kesal.
Ada juga yang sudah punya alternatif. "Nek Bernardo Tavares gagal, beri mandat kepelatihan ke Coach Aji Santoso," saran yang lain.
Namun, tak semua jari menunjuk ke pelatih. Sebagian justru mempertanyakan mental dan performa pemain di lapangan. "Diganti pelatih sampai Ancelotti opo Carrick nek wes mainmu ngene terus yo kata-kata juara dan peringkat duwur mek mimpi," ujar seorang netizen.
Mencari Akar Masalah
Lalu, apa sebenarnya yang kurang beres? Menurut sejumlah pengamat, skema Tavares terlihat mandek. Rotasi pemain dianggap kurang berani, terlalu mengandalkan pilar asing tertentu sementara pemain lokal berbakat hanya numpang duduk di bangku cadangan. Transisi dari bertahan ke menyerang, yang harusnya lancar dan cepat, justru sering macet di area tengah.
Nah, sisa pertandingan di April ini bakal jadi penentu nasib. Manajemen Persebaya punya standar tinggi dan sejarah tak segan mengambil keputusan tegas jika target melorot. Dua laga ke depan menjadi ujian sesungguhnya bagi Tavares.
Gagal meraih poin penuh, desakan untuk ganti pelatih pasti akan makin kencang. Meski begitu, memberhentikannya tidak semudah membalik telapak tangan. Kontraknya masih mengikat hingga 2028, yang tentu jadi pertimbangan rumit bagi manajemen.
Sekarang, semua mata tertuju padanya. Bola ada di kaki Bernardo Tavares. Dia harus buktikan bahwa dirinya bukan cuma pelatih sementara, tapi sosok yang mampu membawa Persebaya kembali ke puncak. Waktunya tinggal sedikit.
Artikel Terkait
Arsenal Dikabarkan Incar Lucas Bergvall, Bintang Muda Tottenham di Tengah Ancaman Degradasi
Newcastle United Incar David De Gea untuk Perkuat Gawang
Veda Ega Pratama Siap Bangkit di Seri Spanyol Moto3 Usai Persiapan Intensif
Dewa United Ancam Jalur Hukum, Bhayangkara Buka Suara Soal Dugaan Rasisme Pemicu Insiden Tendangan Kungfu