Islah Bahrawi belakangan ini ramai diperbincangkan. Tokoh Madura yang memimpin Jaringan Moderat Indonesia itu menyampaikan kritik pedasnya kepada Presiden Prabowo, salah satunya dalam sebuah forum di Komunitas Utan Kayu. Suaranya yang lantang langsung menyita perhatian.
Di tengah situasi yang kerap menekan suara-suara kritis dari aktivis dan akademisi, sikap Islah ini terasa cukup berani. Lantas, dari mana ia mendapatkan keberanian seperti itu? Ternyata, ada satu sosok yang menjadi inspirasinya: Mahfud MD.
“Saya belajar dari Pak Mahfud,” ujar Islah.
“Saya tahu kalau Pak Mahfud itu dianggap ‘peluru tak terkendali’ oleh Gus Dur. Kenapa sih atribusi ini Gus Dur lekatkan ke Pak Mahfud? Setelah saya melihat, ternyata memang satu ilmu menurut saya. Orang itu tidak akan takut dengan apapun, tidak akan minder dengan apapun kalau dia itu merasa menguasai keilmuan yang dia bicarakan,” jelasnya dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di kanal YouTube Mahfud MD Official, Sabtu lalu.
Bagi Islah, penguasaan ilmu adalah modal utama. Itu yang membuat seseorang bisa tegak menyuarakan kebenaran tanpa gentar. Namun begitu, itu saja belum cukup. Ia menekankan, integritas dan kebersihan diri juga kunci, agar seseorang tidak mudah ‘tersandera’ oleh kepentingan apa pun.
“Itu kenapa saya harus bisa seperti Pak Mahfud, itu yang membuat saya berani. Tapi bukan hanya itu saja, kalau ada etik dan moral yang tidak bisa dijaga, tetap juga orang bisa terbeli keberaniannya, orang bisa takut kalau dia tersandera. Sehingga, kemudian saya belajar lagi kepada Pak Mahfud, ternyata Pak Mahfud itu memang tidak bisa dibeli oleh siapapun, sehingga dia betul-betul menjadi peluru tak terkendali. Dia akan berani menyuarakan yang benar itu benar yang salah itu salah,” tegasnya.
Prinsip-prinsip yang dipegang teguh Mahfud itulah yang menginspirasi Islah. Menurutnya, keberanian seseorang bisa dilihat dari rekam jejak dan kebiasaannya.
“Kalau kita itu terbiasa melacurkan diri ke mana-mana, pada akhirnya kita seperti barang dagangan saja, itu yang betul-betul kita jaga agar tidak jadi murah sekali. Dan ini pengalaman pribadi saya, saya terus terang kalau ceramah di mana-mana yang bisa dilihat di YouTube, di mana-mana, termasuk di channel saya, di channel Terus Terang Media ini, di Berani itu, saya tidak pernah pakai konsep, saya tidak pernah pakai pointer, yang muncul itu adalah dari buku-buku yang saya baca,” papar Islah.
Banyak momen yang membuatnya kagum. Salah satunya ketika Mahfud masih menjabat Menkopolhukam. Di tengah tekanan dan banyaknya pejabat yang membela, Mahfud justru berdiri tegak menyikapi kasus Ferdi Sambo. Ia berani ambil risiko sampai akhirnya kebenaran terbuka.
Sikap tegas serupa juga ditunjukkan Mahfud dalam kasus-kasus besar lain, seperti kasus Teddy Minahasa atau pun kasus pencucian uang triliunan rupiah di Kemenkeu.
“Kalau buat saya, terutama ketika kasus Sambo. Saya melihat Pak Mahfud betul-betul menjadi the last man standing di situ, ketika Sambo itu berbohong dalam waktu yang sangat lama, sehingga banyak sekali korbannya di dalam internal kepolisian yang terpengaruh dengan cerita yang dibuat oleh, yang di-makeover oleh Sambo ketika itu, masih percaya dengan proses tembak-menembak. Pak Mahfud sudah betul-betul menjadi one man show di situ yang mengatakan ini bukan tembak-tembakan, ini pasti terjadi kriminal, terjadi penembakan yang dilakukan langsung oleh Sambo,” kenang Islah.
Ada hal personal yang menarik dari hubungan mereka. Islah punya panggilan khusus untuk Mahfud MD, yang jarang digunakan orang lain: Aba Mahfud.
Di Madura, sebutan “Aba” biasanya disematkan untuk orang yang sangat dihormati, seringkali kepada mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Menariknya, panggilan yang sama juga Islah gunakan untuk ayah kandungnya sendiri.
“Saya juga ke Bapak saya manggil Aba juga, tanpa H. Jadi, saya panggil Aba, juga ke Aba Mahfud saya manggilnya Aba, Aba Mahfud, bukan Pak Mahfud, kalau Pak Mahfud itu kesannya sudah terkontaminasi dengan Jawa. Jadi, saya manggilnya Aba Mahfud supaya atribusi ke-Madura-an tidak hilang, lebih natural kalau saya menganggapnya begitu,” tutup Islah.
Artikel Terkait
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim
Bayern Munich Hadapi Real Madrid di Allianz Arena dengan Modal Agregat Tipis
Mukena Premium Naeka Ekspansi ke Pasar Global Berkat Dukungan UMKM
Polisi Kukar Gagalkan Peredaran 1,5 Kg Sabu, Selamatkan 15.000 Orang dari Jerat Narkoba