SulawesiPos.com – Gencatan senjata AS-Iran yang baru diumumkan itu, nyatanya belum genap sehari umurnya. Sudah goyah. Bahkan, bisa dibilang di ambang kehancuran.
Pemicunya? Iran kembali menutup Selat Hormuz. Langkah tegas ini mereka ambil sebagai jawaban atas serangan Israel di Lebanon yang tak juga berhenti. Padahal, selat itu adalah urat nadi minyak dunia sekitar seperlima pasokan global lewat di sana. Jadi, ini bukan sekadar gebrakan simbolik. Ini pukulan telak bagi inti perjanjian.
Dalam kesepakatan yang digodok sebelumnya, Presiden AS Donald Trump setuju menunda serangan selama dua minggu. Syaratnya jelas: Iran harus membuka dan menjamin keamanan pelayaran di Hormuz. Akses terbuka di selat itu jadi penopang utama gencatan.
Nah, dengan ditutupnya kembali selat itu hari ini, fondasi perjanjian praktis ambruk sebelum sempat bekerja.
Israel Dituding Langgar Semangat Perjanjian
Menurut sejumlah laporan dari Teheran, pihaknya menilai Israel telah melanggar semangat gencatan senjata. Caranya? Dengan melancarkan serangan simultan, baik ke wilayah Iran sendiri maupun ke Lebanon yang terus berkobar.
Serangan di Lebanon itulah yang disebut-sebut sebagai pemicu utama keputusan Iran mengetatkan lalu lintas pelayaran.
Di sisi lain, Washington punya argumen berbeda. Mereka bersikukuh bahwa konflik di Lebanon berada di luar cakupan kesepakatan dengan Iran. Presiden Trump sendiri menyebut situasi di Lebanon sebagai hal yang “terpisah” dari perjanjian damai itu.
Artikel Terkait
Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani
Tersangka Peragakan Ulang Pembunuhan Sadis dan Pemotongan Mayat di Brebes
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rentan Koreksi Meski Ditutup Menguat
Pelatih PSM Akui Laga Kontra PSIM di Yogyakarta Akan Berat dan Sulit