Faktanya, sekitar 70–80 persen tanaman tebu nasional saat ini sudah uzur dan kurang produktif. Karena itulah program ini dianggap krusial.
"Bapak Presiden meminta kami membantu petani tebu. Kami sudah anggarkan Rp1,7 triliun untuk program bongkar ratoon, dengan target peremajaan sekitar 300 ribu hektare secara bertahap," jelas Amran.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono punya pandangan senada. Baginya, perbaikan tata niaga dan jaminan pasar adalah kunci pemulihan semangat petani.
"Intinya kunci swasembada itu sederhana, banyak tanam, banyak panen, dan banyak produksi," ujar Sudaryono.
"Tapi sekarang terjadi paradoks, kita impor gula, sementara gula petani tidak laku. Ini karena banjir gula rafinasi ke pasar konsumsi."
Ia menambahkan, jaminan harga dan kepastian penyerapan hasil adalah modal utama bagi petani untuk tetap bertahan dan berkembang.
"Kalau gula petani dijamin dibeli dengan harga baik, pasti petani semangat. Karena itu pengawasan gula rafinasi harus diperketat agar tidak merembes ke pasar konsumsi," tambahnya.
Optimisme tetap digaungkan. Dengan penertiban di hilir dan peremajaan di hulu yang dilakukan bersamaan, pemerintah yakin kesejahteraan petani bisa terdongkrak. Target jangka panjangnya pun jelas: mempercepat swasembada gula konsumsi nasional. Tentu, semua itu butuh eksekusi yang konsisten, bukan sekadar wacana di ruang rapat.
Artikel Terkait
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Prabowo Ingatkan Ancaman Manipulasi AI dan Akun Palsu di Media Sosial
Warga Makassar Tertipu Rp12 Juta dalam Penawaran Tukar Uang Baru di Facebook