Jakarta Suara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terdengar tegas dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu lalu. Intinya jelas: petani tebu kita sedang terpojok. Ironisnya, ini terjadi justru saat kebutuhan gula nasional masih sangat tinggi. Masalahnya bukan cuma soal berapa ton yang dihasilkan, tapi lebih ke tata niaga yang dinilai belum adil bagi petani.
"Kita temukan rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar sebagai gula konsumsi," tegas Amran.
"Ini sangat membahayakan karena menekan harga dan membuat gula petani tidak terserap. Kalau ini tidak ditertibkan, petani yang paling dirugikan."
Memang, situasinya cukup janggal. Di satu sisi, impor gula masih berjalan. Namun di sisi lain, gula hasil kebun sendiri malah menganggur di gudang. Fenomena serupa terjadi pada molase. Harganya yang sempat menyentuh Rp1.900 per liter, anjlok hingga sekitar Rp1.000 pada Maret 2026. Jelas, ini jadi alarm yang tak bisa diabaikan.
Dampaknya merembet luas. Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan betapa pahitnya kondisi ini bagi BUMN gula.
"Sugar Co membukukan rugi Rp680 miliar pada 2025 akibat harga yang tidak cukup baik, yang dipicu oleh impor gula yang tidak terkontrol," ujarnya.
Menurut Dony, banjirnya gula rafinasi impor tak cuma mematikan pasar bagi petani, tapi juga menggerogoti kinerja perusahaan gula nasional. Ia menekankan, persoalan tata kelola ini harus segera dibenahi. Kalau tidak, kerugian akan terus berulang setiap tahun.
Padahal, kalau dilihat dari angka, produksi dalam negeri tak bisa dibilang kecil. Di tahun 2025, luas panen tebu diproyeksikan mencapai 563 ribu hektare lebih. Produksi Gula Kristal Putih (GKP) diperkirakan tembus 2,67 juta ton. Tapi, kebutuhan nasional jauh lebih besar: 6,7 juta ton. Terdiri dari 2,8 juta ton untuk konsumsi dan 3,9 juta ton untuk industri. Kesenjangannya nyata.
Lalu, apa solusinya? Pemerintah mengambil dua langkah sekaligus. Pertama, menertibkan distribusi gula rafinasi lewat kebijakan larangan dan pembatasan (lartas). Pengawasan diperketat agar tak ada lagi kebocoran ke pasar konsumsi. Kedua, menggenjot produksi dari hulu. Caranya? Melalui program peremajaan tebu atau bongkar ratoon.
Faktanya, sekitar 70–80 persen tanaman tebu nasional saat ini sudah uzur dan kurang produktif. Karena itulah program ini dianggap krusial.
"Bapak Presiden meminta kami membantu petani tebu. Kami sudah anggarkan Rp1,7 triliun untuk program bongkar ratoon, dengan target peremajaan sekitar 300 ribu hektare secara bertahap," jelas Amran.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono punya pandangan senada. Baginya, perbaikan tata niaga dan jaminan pasar adalah kunci pemulihan semangat petani.
"Intinya kunci swasembada itu sederhana, banyak tanam, banyak panen, dan banyak produksi," ujar Sudaryono.
"Tapi sekarang terjadi paradoks, kita impor gula, sementara gula petani tidak laku. Ini karena banjir gula rafinasi ke pasar konsumsi."
Ia menambahkan, jaminan harga dan kepastian penyerapan hasil adalah modal utama bagi petani untuk tetap bertahan dan berkembang.
"Kalau gula petani dijamin dibeli dengan harga baik, pasti petani semangat. Karena itu pengawasan gula rafinasi harus diperketat agar tidak merembes ke pasar konsumsi," tambahnya.
Optimisme tetap digaungkan. Dengan penertiban di hilir dan peremajaan di hulu yang dilakukan bersamaan, pemerintah yakin kesejahteraan petani bisa terdongkrak. Target jangka panjangnya pun jelas: mempercepat swasembada gula konsumsi nasional. Tentu, semua itu butuh eksekusi yang konsisten, bukan sekadar wacana di ruang rapat.
Artikel Terkait
Jakarta LavAni dan Bhayangkara Presisi Pastikan Duel di Final Proliga 2026
Prabowo Serukan Persatuan di Hadapan Ketua DPRD Se-Indonesia untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Borneo FC Kalahkan PSM Makassar 2-1 di Stadion Andi Mattalatta
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman