Swara yang meragukan swasembada beras Indonesia belakangan ini memang ramai di media sosial. Tapi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, punya jawaban tegas. Menurutnya, capaian tahun lalu itu nyata, bukan sekadar narasi politik atau kejutan dadakan yang dipaksakan.
"Ini bukan opini, ini angka resmi," tegas Rivai.
Ia lantas merujuk pada data Badan Pusat Statistik. Produksi beras nasional tahun 2025, katanya, menyentuh angka sekitar 34,7 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya berkisar 31,1 juta ton. Dari situ, muncul surplus lebih dari 3 juta ton. Badan Pangan Nasional juga mencatat penguatan stok dan cadangan beras pemerintah sepanjang tahun itu. Bagi Rivai, logikanya sederhana: dalam ekonomi pangan, swasembada tercapai ketika produksi melampaui konsumsi. Titik.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa memang ada impor beras di awal tahun. Namun, Rivai dengan jelas membedakannya. Impor yang dilakukan bersifat taktis dan sementara, semata untuk menjaga stabilitas harga. Itu sama sekali berbeda dengan ketergantungan struktural. Neraca pangan, jelasnya, dihitung secara tahunan. Jadi, impor terbatas tidak serta-merta menghapus status swasembada yang sudah dicapai.
Artikel Terkait
Mahfud MD Tegaskan Kritik Saiful Mujani Bukan Makar, Ajak Prabowo Dengarkan Semua Pihak
Operator SPBU di Mamuju Tolak Pengisian Pertalite karena Data Kendaraan Tak Sesuai
Ledakan Mesin Sterilisasi di Dapur MBG Serang Lukai Dua Pekerja
Harga Emas Pegadaian Tembus Rp2,9 Juta per Gram, Naik Signifikan