Suasana di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, Selasa lalu, jauh dari kesan kaku sebuah kantor pemerintahan. Alih-alih rapat formal, yang terdengar justru gelak tawa dan nyanyian. Di situlah Kementerian Sosial menggelar acara Doa Bersama dan Sosialisasi Transformasi Budaya Kerja, sebuah upaya konkret untuk membangun iklim kerja baru yang lebih solid dan manusiawi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, tampak menikmati momen itu. Menurutnya, acara semacam ini berhasil menampilkan sisi lain para pegawai, sisi yang sering tersembunyi di balik rutinitas dan protokol.
"Dengan acara ini kita melihat hal-hal yang mungkin selama ini tidak kita temukan di ruangan kantor. Para direktur terlihat apa adanya,"
katanya.
"Jadi ini kelihatan semua bisa lepas dan ini baik untuk kita semua. Bahwa banyak ketidaksempurnaan di tengah-tengah kita, tapi kita bisa saling menguatkan. Itu catatan kita,"
sambung Gus Ipul.
Ia meyakini, semangat kebersamaan dan gotong royong inilah yang akan menjadi tulang punggung untuk menghadapi segala tantangan ke depan. "Kalau kita punya (rasa) kebersamaan, tidak ada yang bisa kita tidak atasi secara bersama-sama. Itulah kekuatan kita," tegasnya.
Acara itu sendiri dibuka dengan penampilan penuh energi dari siswa SRMA Bekasi dan Jakarta. Kemeriahan terus berlanjut saat paduan suara 'Suarasa' Kemensos tampil, mengajak semua yang hadir untuk ikut bersenandung.
Puncaknya adalah lomba kreativitas antar unit eselon I. Setiap departemen memamerkan konsep unik dengan kostum yang variatif, mulai dari batik ciprat hingga nuansa kerajaan klasik. Suasana pun riuh rendah.
Penampilan Sekretariat Jenderal, misalnya, benar-benar menyedot perhatian. Dengan tema Mesir kuno, mereka berhasil menghidupkan panggung dan mengajak seluruh audiens untuk menari bersama.
Di sisi lain, transformasi budaya kerja ini juga mendorong perubahan makna dari konsep 'hemat'. Bukan lagi sekadar memotong anggaran atau membatasi, melainkan bekerja dengan lebih tepat sasaran dan efisien. Inilah inti dari 'Gerakan Hemat Energi' yang digaungkan.
Implementasinya bisa dilihat dari langkah-langkah praktis. Seperti kerja dari rumah setiap Jumat, penggunaan kendaraan dinas secara bersama, atau prioritas naik transportasi umum. Penggunaan sumber daya sehari-hari air, listrik, kertas juga dilakukan dengan lebih bijak, didukung percepatan digitalisasi.
Intinya, hemat di sini berarti menghilangkan hal-hal yang tak perlu. Tujuannya satu: agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih fokus dan optimal. "Kemensos Hemat, Layanan Hebat," begitu jargon yang ingin diwujudkan.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wamen Agus Jabo Priyono dan Sekjen Robben Rico itu, pada akhirnya bukan sekadar seremonial. Ia adalah sebuah deklarasi. Langkah awal menuju budaya kerja yang tidak hanya efektif dan adaptif, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong di dalamnya.
Artikel Terkait
BSN Salurkan 245 Hewan Kurban ke Masyarakat di Seluruh Indonesia
Tangis Haru dan Saling Memaafkan Warnai Puncak Wukuf Jemaah Haji ESQ Tours di Arafah
Militer Israel Klaim Tewaskan Kepala Baru Sayap Bersenjata Hamas di Tengah Gencatan Senjata
Anak-anak Gaza Paksa Bekerja di Tengah Puing Iduladha demi Menopang Keluarga