Lantas, benarkah ini sebuah kejutan? Rivai menampik. Capaian ini, menurutnya, adalah hasil akselerasi yang terencana dan sistematis. Bukan kebetulan. Ia menyebut sejumlah langkah kunci dari Kementerian Pertanian: peningkatan luas panen, perbaikan produktivitas lewat teknologi dan bibit unggul, penguatan harga gabah di tingkat petani, serta optimalisasi penyerapan oleh Perum BULOG. "Dengan demikian, swasembada ini adalah hasil konsistensi kebijakan," ujarnya. Bukan anomali jangka pendek.
Beberapa kalangan kerap membandingkan Indonesia dengan Jepang yang teknologinya canggih. Rivai menilai perbandingan itu kurang relevan. Tantangan kita jauh berbeda. Skala konsumsinya lebih besar, lahannya beragam, dan struktur petaninya didominasi oleh petani kecil tradisional. "Keberhasilan swasembada tidak diukur dari siapa yang paling canggih teknologinya," tegasnya lagi. Tapi dari kemampuan suatu bangsa memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.
Pesan terakhirnya jelas. Ia mengajak publik untuk melihat data secara objektif, bukan sekadar klaim. "Swasembada beras 2025 adalah momentum bersejarah," ucap Rivai.
Tantangan ke depan sudah bergeser. Bukan lagi soal membuktikan kemampuan, melainkan bagaimana menjaga momentum ini. Memperkuatnya, dan memastikan manfaatnya benar-benar merata, dirasakan dari petani di sawah hingga konsumen di dapur. Ketahanan pangan, bagaimanapun, adalah fondasi utama kemandirian bangsa.
Artikel Terkait
Mahfud MD Tegaskan Kritik Saiful Mujani Bukan Makar, Ajak Prabowo Dengarkan Semua Pihak
Operator SPBU di Mamuju Tolak Pengisian Pertalite karena Data Kendaraan Tak Sesuai
Ledakan Mesin Sterilisasi di Dapur MBG Serang Lukai Dua Pekerja
Harga Emas Pegadaian Tembus Rp2,9 Juta per Gram, Naik Signifikan